Beranda ekonomi 3.015 Botol Vaksin Sinovac Jatah Kutim Segera Diambil di Samarinda

3.015 Botol Vaksin Sinovac Jatah Kutim Segera Diambil di Samarinda

138
0
Ilustrasi : Vaksin COVID-19

SANGATTA (25/01/2021)
SUARAKUTIM.COM—Setelah sempat menunggu beberapa pekan, akhirnya sebanyak 3.015 botol vaksin Sinovac yang rencananya diperuntukkan bagi tenaga kesehatan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), dikabarkan telah berada di Samarinda dan siap untuk diambil oleh Dinas Kesehatan Kutim.

Kadinkes Kutim, Bahrani Hasanal

“Benar vaksin sudah ada di Samarinda dan rencananya besok, Selasa (26/01/2021) baru akan kita ambil di Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim (Kalimantan Timur, red). Memang sebelumnya, kita (Kutim, red) dijanjikan bakal diserahkan pada tanggal 22 Januari 2021 lalu, tetapi ternyata diundur lagi hingga besok. Terpaksa rencana launching penyuntikan perdana vaksin COVID-19 di Kutim, juga kita mundurkan tanggalnya,” ucap Bahrani, Senin (25/01/2021).

Lanjutnya, jumlah vaksin Sinovac yang dijatah untuk Kutim kali ini sebanyak 3.015 botol vaksin yang akan digunakan untuk dua kali tahap proses penyuntikan. Jumlah tersebut diakuinya lebih banyak dari jumlah yang diusulkan sebelumnya, yakni sebanyak 2.720 botol, karena diperoleh dari hasil pendataan kepada seluruh tenaga kesehatan (Nakes) yang ada di Kutim dan memenuhi kriteria atau persyaratan untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19.

“Jatah yang diberikan untuk Kutim ada sebanyak 3.015 botol vaksin, untuk dua kali proses tahapan penyuntikan. Jadi untuk penyuntikan tahap pertama ada sebanyak 1.500 lebih tenaga Nakes (Tenaga Kesehatan, red) mulai dari dokter, perawat, bidan, hingga supir mobil ambulance dan tenaga administrasi, baik yang bertugas di fasilitas kesehatan milik pemerintah mupun instansi vertikal seperti TNI-Polri, akan ikut disuntik vaksin Sinovac ini, bersama kesepuluh orang tokoh tersebut. Nantinya setelah berselang dua minggu dari proses penyuntikan pertama, maka ribuan Nakes dan unsur tokoh masyarakat tadi akan disuntik ulang,” ujarnya.

Terkait mekanisme penyuntikan perdana vaksin COVID-19 yang rencananya akan dilaksanakan pada Rabu (27/01/2021) lusa, Bahrani menuturkan nantinya akan ada sepuluh orang tokoh di Kutim yang akan mengikuti proses launching penyuntikan perdana vaksin Sinovac di Kutim. Kesepuluh tokoh tersebut rencananya mulai dari Sekretaris Daerah (Sekda) Kutim Irawansyah, Dandim 0909/Sangatta Letkol CZI Pabate, Danlanal Sangatta Letkol (P) Osben Naibaho, Kapolres Kutim AKBP Welly Djatmoko, Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Kutim, Ketua IBI (Ikatan Bidan Indonesia), Ketua PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Kutim, Ketua IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) Kutim, Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat di Kutim. Namun karena vaksin baru akan diambil pada Selasa (26/01/2021) esok, maka kemungkinan launching vaksinasi COVID-19 perdana di Kutim juga akan diundurkan waktunya. Hal ini mengingat sejumlah persiapan yang harus dilakukan sebelum dilakukan vaksinasi.

“Untuk Pak Plt (Pelaksana Tugas, red) Bupati Kutim, rencananya tidak di suntik vaksin karena beliau sudah pernah positif COVID-19 dan dinyatakan sembuh. Jadi dari unsur pemerintah Kutim diwakili oleh Pak Sekda (Sekretaris Daerah, red) dan unsur lainnya. Tetapi karena jadwal pengambilan vaksin di Samarinda berubah, maka jadwal pemberian vaksinasi perdana di Kutim juga kemungkinan ikut berubah atau dimundurkan, karena harus ada persiapan sebelum proses vaksinasi,” jelasnya.

Lebih jauh Bahrani berharap, proses vaksinasi COVID-19 di Kutim bisa berjalan lancar dan aman, mulai dari proses pengambilan vaksin, pemberian suntikan hingga pasca vaksinasi. Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai kabar-kabar bohong atau HOAX yaang masih meragukan kebersihan dan kehalalan kandungan vaksin, serta efek buruk setelah dilakukan vaksinasi.

“Kami berharap proses pemberian vaksin COVID-19 di Kutim bisa berjalan lancar dan aman, sejak awal pengambilan hingga akhir tahapan vaksinasi. Masyarakat jangan mempercayai berita atau kabar Hoax lah terkait vaksin ini, karena sudah ada rekomendasi dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan, red) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia, red) untuk sertifikasi kehalalannya. Kita harapkan dengan adanya vaksin ini akan membentuk Herd Immunity atau atau kekebalan kelompok masyarakat dari penularan virus COVID-19. Sehingga mampu menekan penularan COVID-19 di Indonesia,” pungkas Bahrani.(Redaksi-SK)