Beranda kesehatan Bahrani : Eza Mengalami KTC Sejak Lahir, Hanya Bisa Lihat Cahaya Saja

Bahrani : Eza Mengalami KTC Sejak Lahir, Hanya Bisa Lihat Cahaya Saja

274
0
Katarak pada bayi

SANGATTA (28/1-2019)

                Meksi tak ingin membeberkan apa yang terjadi pada M Eza Saputra – anak Ria Yanti  yang kini heboh karena dugaan malpraktik, Bahrani Hasanal – Kadis Kesehatan Kutim mantan Direktur RSU Kudungga Sangatta, akhirnya mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya terhadap mata warga Sangatta Selatan ini agar masyarakat mengetahui duduk persoalan sebenarnya.

                Kepada Suara Kutim.com, Bahrani yang sempat membantu keluarga Eza               mendapatkan bantuan Pemkab Kutim untuk berobat ke Jakarta,  mengungkapkan pada tahun 2013 hasil  diagnosa, Eza menderita Katarak Congenital Totalis (KTC).

                Karena mengalami KTC, mata Eza  mengalami kekeruhan pada lensa mata yang kemungkinan disebabkan galaktosemia, sindroma kondrodisplasia, rubella kongenital, atau sindroma down. Berdasarkan data, penderita KTC hanya dapat menangkap cahaya tanpa dapat melihat utuh seperti bayi yang lahir sehat dan normal. “Waktu itu, Eza sudah menderita KTC dikedua matanya, nah mata yang KTC pada lensa matanya mengalami kekeruhan dan itu dapat terlihat tanpa bantuan alat khusus karena tampak sebagai warna keputihan pada pupil yang seharusnya berwarna hitam,” terang Bahrani seraya menambahkan Eza saat dibawa ke RSU Kudungga sudah tidak bisa melihat kecuali sinar atau cahaya saja.

                Agar Eza bisa melihat benda selain cahaya saja, ujar Bahrani, dilakukan operasi dengan memasang lensa. Namun, sesuai SOP, pemasangan tidak dilakukan bersamaan tetapi bertahap dengan jarak waktu cukup lama.

                Namun sayang, pada saat dilakukan pemasangan lensa di mata kiri, diketahui lensa di mata kanan mengalami perubahan yang diduga akibat terkena gesekan tangan. Sehingga akan dilakukan operasi ulang untuk membetuli lensa yang miring. “Sudah dijadwalkan lima hari setelah pemasangan lensa kiri, namun orang tua Eza baru datang 15 hari kemudian dalam keadaan kurang sehat sehingga tidak bisa dilakukan operasi ulang,” sebut Bahrani.

                Tanpa maksud menyalahkan keluarga Eza, Eza oleh keluarganya selalu dibawa terlambat saat melakukan kontrol dan pengobatan. Setelah mata kanan, Eza mengalami pembengkakan, dokter Zainuddin sebagai dokter yang menangani Eza merujuk agar Eza dibawa ke RS yang punya peralatan lebih lengkap.

                Menurut Bahrani, prosedur yang dilakukan RSU Kudungga sudah sesuai SOP namun disayangkan dukungan orang tua minim. Iapun melihat tidak ada malpraktik, terlebih IDI Kaltim melalui Arie – spesialis mata ternama di Samarinda menyatakan tidak ada kesalahan apapun. “Kasus mata Eza itu diadukan ke Polres Kutim, hasilnya nggak ada kesalahan karena yang menyatakan itu tenaga ahli yang diminta Polres Kutim yakni IDI Kaltim bukan IDI Kutim,” tandas Bahrani.(SK11)