Beranda ekonomi Catatan Perjalanan Haji (24)

Catatan Perjalanan Haji (24)

100
0

Tak Ada Perayaan Khusus Idul Adha di Makkah

Anak-anak warga Makkah usai shalat Idul Adha.

SENANG dan haru bercampur aduk saat berada di Masjidil  Haram untuk mengikuti shalat Id Adha, pasalnya ini, dihari bahagia ini, kami hanya seorang diri tanpa keluarga. Masih mengenakan ihram, kami para jamaah yang berhasil tiba di Masjidil Haram tampak tertediam meski tak mengerti isi khotbah khatib yang disampaikan dalam Bahasa Arab.

                Namun, kesendirian di antara ribuan jamaah membuat hati terenyuh, terlebih teringat akan  ayahnda saya  yang  wafat  di Mina usai melontar Aqobah, kemudian dimakamkan di Ma’la tak jauh dari Masjidil Haram.

Usai shalat Idul Adha, suasana di Masjidil Haram seperti biasa. Jamaah dan masyarakat  Makkah kembali melakukan rutinitasnya seperti tawaf dan berdagang, tidak ada perbedaan mencolok. Hanya beberapa anak-anak kecil mengenakan kemeja, tampak bermain-main di pelantaran Masjidil Haram yang masih terasa dingin sementara orang tua dan keluarganya duduk santai seraya menikmati tes serta kue dan kurma yang mereka bawa dari rumah.

                Berbeda di tanah air, meski Hari Raya Idul Adha, suasananya tampak ramai karena warga tetap saling bersilahturahmi. Sejumlah warga negara Indonesia yang sudah lama berada di Makkah, mengakui Idul Adha merupakan hari raya teramai karena banyak jamaah haji sedangkan pada Hari Raya Idul Fitri, terbilang sepi meski banyak jamaah umrah.

                Meski sepi (ukuran di Makkah,red) tapi jangan harap bisa mendapatkan taksi murah, semua tarif taksi harganya benar-benar menguras kantong. Untuk jarak 4 kilomenter saja, dipatok minimal 100 Riyal Saudi per orang. Sementara bus umum yang diharapkan bisa membantu, tampaknya seperti kerjasama dengan sopir taksi, mereka enggan beroperasi.

                Mahalnya tarif taksi di Makkah ini, membuat warga Makkah lainnya memanfaatkan situasi dengan menjadikan mobilnya   taksi gelap, meski dilarang. Tapi jangan kaget, tarif yang mereka patok tidak jauh berbeda dengan taksi resmi. Karenanya banyak jamaah yang nekad kembali ke hotel, jalan kaki meski dalam keadaan letih luar biasa.(Syafranuddin/bersambung)