Beranda ekonomi Catatan Perjalanan Haji (27)

Catatan Perjalanan Haji (27)

87
0

Hati-Hati Berbelanja Makanan PKL

Jatah makanan jamaah haji yang dibagikan tepat waktu dengan tutup berbeda setiap waktu.

PELAYANAN kepada jamaah haji terus mengalami perbaikan, selain pemondokan yang setara hotel bintang tiga, sarana transportasi juga tergolong memadai. Demikian dengan konsumsi, semua disediakan tepat waktu.

                Menu makanan yang disajikan memenuhi kebutuhan jamaah, karena ada nasi ditambah sambal,kemudian telur, daging sapi atau ayam serta sayur. Semua menunya selera Indonesia, meski demikian tidak bisa memenuhi selera semua jamaah karenanya ada saja jamaah yang nekad masak sendiri seperti ikan asin, akibatnya alarm hotel kerap berdering dan pihak hotel keberatan karena baunya menyebar kemana-mana.

Salah satu menu sarapan saya selama di Makkah

                Selain itu, jamaah juga bisa membeli makanan, minuman serta teh di restauran yang disediakan hotel, dan usai shalat subuh juga ada pedagang asal Indonesia yang menjual aneka ragam makanan khas Indonesia seperti nasi kuning, nasi goreng,pecel, kue dan tahu goreng, tempe  plus ikan asin.

               Belanja sarapan depan hotel ini harus cepat dan membawa uang seperlunya, sehingga jika sedang transaksi tiba-tiba datang petugas, semua jadi berantakan. Pasalnya pedagang enggak mau ditangkap, mereka rela meninggalkan makanan yang disita ketimbang uang karenanya saat lari hanya uang yang dibawa mereka.

                Nah bagi jamaah yang sedang menunggu kembalian, tentu tak bisa berbuat apa-apa kecuali gigit jari dengan mengiklaskan uangnya dibawa pergi.

               Dibalik operasi penertiban PKL ini ternyata saya mendapat kabar, Pemerintah Arab Saudi tidak ingin jamaah haji bermasalah kesehatannya terlebih-lebih penyakit yang dialami mewabah. Karenanya mereka meragukan kandungan atau bahan yang ada pada makanan yang dijual PKL, sementara makanan dan minuman yang ada di hotel dan sajian pemerintah setiap hari dikontrol kualitas dan kesehatannya.

               Tindakan petugas terhadap PKL ini ada benarnya, ini terjadi ketika saya makan nasi kuning kebetulan tanpa sendok ternyata warna kuning pada nasi melekat ditangan saya. Hal ini menandakan nasi kuning yang dijual paling tidak menggunakan pewarna kain yang berbahaya bagi kesehatan.

Melihat nasi kuning yang menggunakan pewarna, sayapun menghentikan membeli makanan melalui PKL , namun memilih membeli sarapan di restoran yang ada di hotel atau rumah makan di sekitar pemondokan. (syafranuddin/bersambung)