Beranda ekonomi Desa Kelola Air Bersih, Bupati Tertarik Dikembangkan di Kutim

Desa Kelola Air Bersih, Bupati Tertarik Dikembangkan di Kutim

1167
0
Bupati Ardiansyah Sulaiman dengan serius mengamati paparan Darmanto - Ketua Dewan Riset DI Yogyakarta saat menjelaskan pengelolaan air bersih oleh Bumdes.

SANGATTA,Suara Kutim.com (5/11)
Keberhasilan Pemprov Yogyakarta mengembangkan penyediaan air bersih berbasis masyarakat, menarik perhatian Bupati Ardiansyah Sulaiman. Setelah membuka seminar RPJMD 2016-2020, orang nomor satu di Pemkab Kutim ini langsung mengajak sejumlah pejabat diantaranya Asisten Tata Praja Syafruddin, Kepala Bapemas Elyan Noor, Kadis Perhubungan dan Kominfo Johansyajh Ibrahim, serta Kadis Dukcapil Januar dan Kabag Humas Setkab Kutim Muhtar, Kabid Fispra Bappeda Sumarjana langsung bertandang ke Dinas PU, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (P2SDM) DI Yogyakarta.
Kedatangan Bupati Ardiansyah disambut Kadis P2SDM Rani Sjamdinarsi. Kepada tuan rumah, bupati mengakui kebutuhan akan air bersih di daerahnya tinggi bahkan dari 135 desa yang ada sekitar 10 persen yang baru terlayani.
Didampingi Darmanto Hartosuwaryo – Ketua Dewan Riset Daerah DI Yogyakarta secara gamblang dipaparkan proses penyediaan air bersih yang dilakukan Paguyuban Pengelola Air Minum Masyarakat Yogyakarta (Pammaskarta) yang didirikan tahun 2008 . “Kehadiran Pammaskarta berdasarkan SK Gubernur DI Yogyakarta yang bertujuan menjawab kebutuhan air di pedesaan yang tidak terlayani PDAM,” terang Darmanto.
Diungkapkan Perusahaan Air Minum Desa (PAMDes) bisa berkembang tiada lain karena eksistensi PAMDes dan Pammaskarta karena adanya keberhasilan kolaborasi ABC yakni akademi, bisnis, community dan government dalam pembangunan situasi yang kondosif untuk penyediaan iar minum berbasis kemasyarakatan. “Akademis, negara dan pengusaha sebagai motivator, coordinator, fasilitator juga ekselerator sehingga desa lebih berperan dalam pemenuhan hajat orang banyak,” beber Darmanto.
Dalam paparan yang disimak serius oleh Bupati Ardiansyah, diungkapkan Darmanto ada beberapa syarat yang dipenuhi dalam pengelolaan PAMDEs yang berkelanjutan diantaranya kemempuan teknis, kemampuan manajemen kelembagaan dan kemampuan mengelola jejaring.
Namun, lebih penting ujar Darmanto bagiamana pola pikir masyarakat untuk mau dan bekerja sekaligus melihat peluang usaha yang menguntungkan. “Masyarakat dapat saling menjadi agen pendorong atau akselerator bagi masyarakat daerah lainnya dalam membangun dan mengelola sistem penyediaan air bersih perdesaan,” tandas Darmanto.
Dua PAMdes di DI Yogyakarta yang berhasil yakni PAMDes Tirta Makmur Desa Karangsari Patuk yang kini mampu melayani 144 KK dengan debit 1,31 liter perdetik sementara air bersih yang dijual ke masyarakat Rp4 ribu/M3. Sementara PAMDes IKK Oyo Wening Santoso yang menjadikan Sungai Oyo sebagai sumber bahan baku melayani 1.659 KK. Dengan produksi 121 liter perdetik menjual air bersih dengan dua tariff yakni Rp3.500 /M3 untuk rumah tangga dan Rp3 ribu/M3 untuk sarana umum.(SK-03/SK-12)