Beranda kesehatan Diduga Kurang Gizi, Keadaan Dilson Menggenaskan

Diduga Kurang Gizi, Keadaan Dilson Menggenaskan

130
0

SANGATTA (29/5-2019)

Sempat heboh dengan tingginya angka kasus stanting atau gangguan tumbuh kembang anak akibat gizi buruk, kini masyarakat dengan SDA besar ini dihebohkan dengan temuan kasus busung lapar atau gizi buruk yang menimpa  Dilson berumur 7 bulan.

Warga  RT 20 Desa Sepaso Kecamatan Bengalon, setelah viral di media sosial, sejak tadi malam dirawat di RSU Kudungga Sangatta.

Direktur RSUD Kudungga Sangatta,  Anik Istiyandari melalui Humas RSUD Kudungga, Jumran membenarkan, Dilson sudah dirawat  di RSU Kudungga Sangatta. “ Saat datang, kondisi bayi sangat lemas dengan perut membuncit namun tubuh kurus kering, hanya tampak kulit yang membalut tulang sehingga terlihat menonjol beberapa tulang rusuknya. Tim medis di ruang Unit Gawat Darurat RSU Kudungga segera melakukan penanganan dengan memasangkan infus cairan serta selang oksigen sebagai bantuan pernapasan,” terang Jumran.

Sejak pagi, kata Jumran, Dilson yang merupakan anak dari Ibu Enci (23)  terus menjalani observasi seperti  pemeriksaan laboratorium untuk darah dan feses atau kotoran hingga dilakukan foto torax atau rontgen secara menyeluruh.

Diungkapkan, hasil analisis sementara  Dilson diduga kuat mengidap gizi buruk. Namun untuk memastikannya, tim dokter  melakukan pemeriksaan secara lengkap, untuk memastikan apakah ada penyakit lain.

Sementara itu,  Enci menerangkan sebelum Dilson dibawa ke rumah sakit, kondisi bayi yang hanya bisa menangis dan enggan minum susu, hingga membuat kondisi semakin menurun. Hal ini menyebabkan kulitnya pun mulai nampak longgar dan keriput hingga menampakkan tulang rusuk sedangkan perutnya nampak membuncit.

Diakui Enci, Dilson terlahir dalam kondisi normal dengan berat badan kurang lebih 3 kg. Namun, akibat penyakit yang dideritanya kini beratnya jauh dari ideal diusia perkembangan bayi pada umumnya. “Awalnya hanya ditemukan adanya pembengkakan pada bagian tubuh Dilson, yang terjadi beberapa bulan lalu, namun lantaran lambannya penanganan akibat tidak adanya biaya, “ terang Enci yang mengaku hanya buruh saawit.(SK3)