Beranda ekonomi Jangan Jual Hewan Kurban Terpapar Brucellosis

Jangan Jual Hewan Kurban Terpapar Brucellosis

131
0
Sapi-sapi yang dijadikan hewan kurban di pasar dadakan di Sangatta

SANGATTA (27/7-2020)

                Dinas Pertanian Kutim menjelang Idul Adha mengecarkan pemeriksaan terhadap sapi dan kambing yang dijual untuk warga masyarakat berkurban. Pemeriksaan digencarkan, terang Kepala Bidang Peternakan Distan Kutim, Mardi Suaibman semata-mata agar sapi dan kambing yang dijual sehat

Kepala Bidang Peternakan Distan Kutim, Mardi Suaibman

Bersama  Kasi Kesehatan Hewan dan Kesmavet,  Cut Meutia mereka mendapat informasi jika Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim,   menemukan penyakit  Brucellosis pada sapi kurban yang akan di jual. “Sapi tersebut didatangkan  dari daerah Sulawesi, dan diduga tidak melalui Karantina atau tepatnya melalui jalur tikus,” terang Mardi.

Kasus yang ada di Kukar ini, diakuinya menjadi perhatian Distan Kutim karena lokasi Kutim yang berada di tepi Selat Makkasar, memudahkan pedagang sapi membawa masuk ke Kutim. “Setiap melakukan pemeriksaan yang pertama dicek bukan kondisi sehat atau tidak, tetapi apakah pedagang mengantongi surat dari Badan atau Balai Karantina Hewan. Karena jika tidak memiliki surat dari karantina hewan, maka pastikan jika hewan kurban tersebut didatangkan secara ilegal atau diselundupkan masuk ke Kutim karena bisa  sapi kurban ini  diturunkan di Kenyamukan atau di wilayah Manubar,” sebut Mardi.

Sementara ,  Cut Meutia, menyebutkan penyakit Brucellosis terjadi akibat  infeksi bakteri Brucella. Menurutnya, Brucellosis baru  diketahui setelah dilakukan uji sampel darah. Ia menambahkan, kondisi fisik luar hewan, tidak begitu terlihat.

Selain mendeteksi melalui pengambilan sampel darah, ujar Cut Meutia,  Brucellosis  baru bisa dideteksi dari organ dalam hewan saat usai dilakukan pemotongan. Biasanya terlhat dari kondisi organ dalam reproduksi hewan. Penyakit Brucellosis ini merupakan penyakit menular antara sesama hewan atau zoonosis, karenanya disarankan  manusia tidak mengkonsumsi daging atau organ dalam hewan yang diketahui terinfeksi penyakit Brucellosis.

“Penularan Brucellosis  berbeda dengan penyakit Antraks atau penyakit Jembrana yang  bisa menularkan penyakit ke  manusia yang mengkonsumsi, meski demikian disarankan  tidak mengkonsumsinya, dan kepada pedagang jika mengetahui sebaiknya tidak menjual demi keselamatan bersama,” imbuhnya.(SK5)