Beranda kesehatan Kader Dilatih Menulis Berita HIV-AIDS

Kader Dilatih Menulis Berita HIV-AIDS

766
0
Menjelang Pelatihan, Peserta Mengikuti Senam Ringan
SANGATTA,Suara Kutim.com
            Penyebaran HIV / AIDS di Kutai Timur (Kutim) cendrung meningkat dan telah mendera ibu-ibu rumah tangga yang  tidak tahu menahu akan asal muasal HIV/AIDS, karena pendidikan kesehatan terutama untuk pencegahan virus mematikan ini harus dilakukan dengan berbagai cara serta melibatkan banyak pihak. 
Sebagai bentuk edukasi, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kutim, selama dua hari menggelar  Pelatihan Jurnalisme Warga Peduli AIDS.
            Sekretaris KPAD Harmadji   Partodarsono, Rabu (20/8) menyebutkan KPAD  terus-menerus melakukan sosialisasi dan pemberian informasi kepada   masyarakat akan  bahaya   HIV/AIDS.  Sosialisasi  dengan  melibatkan media massa  agar pemahaman bahaya HIV/AIDS  semakin digalakan yang akhinya masyarakat  peduli.
Kasus HIV/AIDS diketahui kali pertama ada di Kutim pada tahun 2006 dengan penderita  lalu satu   orang. Namun, dalam waktu enam tahun  menjadi 85 orang penderita, sedangkan pada tahun 2014 sudah 155 kasus “Tingginya penderita HIV AIDS  sangat meresahkan karenanya pendidikan kepada masyarakat patut dilakukan terutama melalui media massa ,” terang Harmadji.
Ia menaruh harapan lewat pelatihan meski hanya dua hari, peserta yang semuanya warga peduli AIDS, bisa menjadi  kader yang mampu menjadi jurnalis peduli AIDS, Tersedianya berita yang benar tentang HIV-AID,  Terjalinya kerjasama dengan pihak media
Pelatihan yang menghadirkan Syafranuddin, seorang wartawan di Sangatta ini secara khusus mengupas bagaimana cara menggali berita serta mengemasnya dalam bentuk tulisan. Syafranuddin yang sudah berkecimpung di dunia jurnalistik sejak duduk dibangku kelas dua SMP itu, memaparkan kiat-kiat menjalin hubungan dengan nara sumber, etika  wawancara sampai mengenal sepak terjang seorang wartawan dalam menjunjung tinggi hak nara sumber.  “Untuk menulis tentang korban HIV AIDS harus banyak menggali sumber data, selain itu menjaga privasi nara sumber,”  pesan pria yang biasa disapa dengan Ivan.
Dengan gayanya yang ceplas-ceplos ditambah pengalaman selama menjadi kuli tinta, mampu membuat peserta yang mulai letih dan ngatuk terpana. “Menjadi seorang wartawan memang perlu waktu dan dedikasi untuk benar-benar menjadi jurnalis sejati,” ungkap anggota PWI dan telah mengantongi sertifikat uji kompetensi ini.(SK-03)