Beranda kutim Kami Ingin Bangkit

Kami Ingin Bangkit

168
0
Aktifitas warga Palu Sulteng, sebulan setelah gempa bumi dan tsunami.

GEMPA BUMI meski tidak merusak semua wilayah di Sulteng, namun titik-titik lokasi akibat dari gempa bumi, tsunami dan tanah longsor serta likuefaksi membuat lumpuh Sulteng, terlebih Palu sebagai jantung Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).
Hilangnya harta benda yang dicari dan dibangun dalam bertahun – tahun, bagi warga tidak masalah namun hilangnnya ribuan jiwa manusia membuat mereka terpukul. Kedukaan yang amat dalam itu tampak sekali dari tatapan wajah masyarakat Palu, meski mereka berusaha untuk tersenyum dan melupakan apa yang terjadi pada Jumat petang (28/9). “Kalau bisa kami ingin melupakan apa yang terjadi Jumat tragis itu, namun bathin ini tidak bisa bahkan menjelang magrib selalu ingat,” aku Sugianto – warga asal Jatim yang sudah lama tinggal di Palu.
Meski sebagai pria kelahiran Malang – Jatim, Sugianto mengaku Palu sudah tanah kelahirannya terlebih ia telah mempersunting gadis Palu yang kini dikarunia 3 orang anak. Bagi Sugianto, banyaknya kerabatnya yang tewas, membuatnya trauma.
Jamaah sebuah masjid di Jalan Kimaja Palu ini menyebutkan apa yang terjadi Jumat penghujung Bulan September 2018 lalu, peringatan paling besar bagi warga Sulteng. “Bisa di kata, semua jantung warag Sulteng ini terhenti semua terlebih ketika Sabtu pagi mengetahui banyaknya bangunan yang rusak dan ratusan jenazah ditemukan. Pada Jumat malam itu, belum diketahui apa-apa karena kota ini gelap gulita, kecuali suara warga dibalik kegelapan malam,” ceritanya.
Meski ribuan warga Sulteng yang sudah tinggal nama, dan berapa yang tidak diketahui nasibnya, warga Sulteng perlahan-lahan ingin melupakan musibah yang bakal menjadi catatan dunia ini. Seiring mulai kembalinya sejumlah relawan ke tanah air dan kampung halamannya, warga Sulteng mulai bangkit.
Ibarat jantung, detak jantungnya mulai bergerak meski pelan. Disudut-sudut kota, mulai tampak toko dan warung buka meski tidak seramai sebelum gempa bumi. Meski demikian, di malam hari pukul 09.00 Wita aktifitas warga sudah sepi. “Kami harus bangkit, kami harus bisa berdiri tegak lagi. Apa yang terjadi merupakan peringatan Allah SWT bagi kami warga Sulteng,” kata Sugianto seraya menceritakan kondisi sepekan setelah gempa terjadi.
Untuk memotovasi warganya, Pemkot Palu dan Pemprov Sulteng membuat sejumlah baliho dan spanduk untuk mengajak warga masyarakat kembali bangkit dan menata Sulteng menjadi provinsi yang mandiri, meski untuk menata memerlukan waktu lama terlebih terhadap warga yang kini bermukim di puluhan lokasi pengungsian.(Syafranuddin)