Beranda kutim haji Khutbah Wukuf : Ihram dan Arafah, Bukti Umat Islam Sama Dihadapan Allah...

Khutbah Wukuf : Ihram dan Arafah, Bukti Umat Islam Sama Dihadapan Allah SWT

134
0
Suasana DR Arief Rembang Supu Randrang menyampaikan khutbah Wukuf dihadapan jamaah haji Kloter 5 Balikpapan.

SANGATTA (10/8-2019)

                Wukuf haji tahun 2019 dimulai pukul 12.14 WAS atau 17.14 WITA, jutaan ummat Islam yang berada di Arafah langsung tafakur saat khutbah Wukuf disampaikan baik di Masjid Namira maupun di masing-masing pemondokan jamaah.



DR Arief Rembang Supu Randrang

               DR Arief Rembang Supu Randrang warga Jalan Pendidikan Sangatta Utara, didaulat untuk menyampaikan khutbah karya KH A Bunyamin Ruihiyat – Naib Amirul Hajj Indonesia. “Semua jamaah haji yang datang ke Makkah merupakan orang yang mendapat panggilan Allah SWT, oleh karena itu disebut dhuyufurrahman atau dhuyufullah – para tamu Allah,” kata KH A Bunyamin Ruihiyat dalam khutbahnya yang berjudul “Meraih Mabrur di Arafah”.

                Subhan – kontributor Suara Kutim.com di Makkah, melaporkan, melalui Arief Rembang yang kesehariannya dosen di STAIS Kutim ditegaskan membaca talbiyah merupakan sebuah pengakuan atas panggilan Allah. Selain itu, terkandung ketulusan jamaah haji dalam memenuhi panggilan Allah dengan meneguhkan tauhid seraya memuji atas segala anugerah nikmat yang didapat. “Hanya dengan ketulusan dan keikhlasan, Allah akan mengabulkan segala amal ibadah kita,” kata Naib Amirul Haji Indonesia ini.

                Karenanya, selama beribadah haji, jamaah dianjurkan bahkan diperintahkan untuk memperbanyak dzikir, mengingat Allaj SWT. Dhadapan jamaah Kloter 15 Balikpapan yang 180 orang diantaranya warga Kutim, ditegaskan dzikir media efektif untuk berkomunikasi dengan Allah SWT.

                Dalam dzikir, ummat Islam akan menemukan keterangan dan kedamaian. Karenanya, manfaatkan keberadaan tempat serta waktu mustajab untuk berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT untuk kebaikan diri, keluarga, bangsa dan negara.

                Saat ini, ujar KH A Bunyamin, jamaah haji seluruh dunia termasuk Indonesia sudah berada di Arafah, tempat bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah berpisah lama. Mengikuti jejak  Nabi Adam AS dan Siti Hawa, manfaatkan keberadaan di Arafah dengan memperbanyak istigfar, memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan.

                Makna lain Arafah, ungkap KH Bunyamin, Arafah merupakan tempat berkumpulnya jutaan ummat Islam dari berbagai bangsa, sku, bahasa, budaya, adat istiadat dan warna kulit. Namun, kesemua sama yakni dengan pakaian yang sama yakni ihram. “Makna pakaian yang sama saat di Arafah ini, bahwa kita sebagai ummat Islam sama dihadapan Allah SWT. Tidak ada pangkat atau jabatan, kyai atau santri, konglongmerat atau melarat, semua sama dihadapan Allah SWT dan yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang paling taqwa kepadaNYA,” ungkap KH Bunyamin.

                Diakhir khutbahnya, KH Bunyamin mengajak jamaah haji Indonesia untuk benar-benar mengambil khikmah dari perjalanan haji yang melelahkan, menguras energi dan biaya tak sedikit. Ummat Islam,  diwajibkan untuk beribadah, namun disadari belum bisa melaksanakan dengan baik dan khusuk  terlebih terhadap zakat dan infaq dengan benar sehingga fakir miskin dan yatim piatu terabaikan.

                Khutbah yang disimak jamaah haji ini, membuat jamaah menangis bahkan tidak sedikit yang harus berkali-kali menyeka air matanya yang terus mengalir tanpa henti hingga adzan shalat dzuhur dikumandangkan.(SK11)