Beranda hukum Kutim Meski Kesulitan APBD, Tetap Berhasil Membangun Kutim

Kutim Meski Kesulitan APBD, Tetap Berhasil Membangun Kutim

266
0
BERBAGI
Suasana sidang istimewa DPRD Kutim berkaitan dengan HUT Kutim ke 18.

SANGATTA (10/10-2017)
Peringatan HUT Kutai Timur (Kutim) ke 18 menjadi momentum semua elemen terutama pemerintah, untuk melakukan intropeksi diri agar cita-cita pembentukan Kutim, terwujud.
Dalam sidang istimewa DPRD Kutim, Bupati Ismunandar menandaskan intropeksi diri yang harus dilakukan agar pondasi pendirian Kutim yang dilakukan pendahulu dijadikan dasar dan pedoman menjawab tantangan berbagai persoalan serta merancang kebijakan pembangunan yang lebih baik.
Dihadapan sidang yang dipimpin Ketua DPRD Mahyunadi, dan diikuti Wabup Kasmidi Bulang, jajaran Forkominda serta sejumlah pejabat, Selasa (10/10) diungkapkan Pemkab Kutim saat ini menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi. “Capaian pertumbuhan okonomi nasional hingga triwulan dua tahun 2017 tumbuh 5,01 persen yang berdampak menurunnya penerimaan daerah terutama dari dana bagi hasil,” beber Ismunandar.

Salah satu alat panen yang disediakan Pemkab Kutim dan dibagikan kepada kelompok tani tujuannya meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat.
Kondisi itu, diakui Ismunandar, berdampak penurunan penerimaan daerah serta terhadap kinerja APBD Kutai Timur sejak tahun anggaran 2016 bahkan berlanjut tahun 2018 sehingga menyebabkan kemampuan fiskal pemkab menjadi lebih rendah.
Menurut Ismu, kecilnya kemampuan fiskal harus disikapi dengan bijak dan diperlukan berbagai upaya agar stabilitas penyelenggaraan pemerintah dan pelaksanaan pembangunan tetap terjaga.
Ia mengakui meski kondisi keuangan Kutai Timur belum stabil, namun Kutim tetap mengalami kemajuan. “Angka kemiskinan cenderung menurun setiap tahun baik persentase maupun anka absolut. Penduduk miskin pada tahun 2016 sebesar 9,16 persen yang tahun 2015 mencapai 9,31 persen,” beber Ismu.
Sementara, Indek Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator komposit dari pembangunan sektor pendidikan, kesehatan dan daya beli meningkat, dari 70,76 tahun 2015 menjadi 71,10 pada tahun 2016.
Indikator kesehatan masyarakat Kutai Timur, ditunjukan dengan Angka Harapan Hidup (AHH) yang meningkat dari 72,39 pada tahun 2015 menjadi 72,45 pada tahun 2016. “Kita tetap eksis membangun, masih tinggi gelombang luat yang menerpa Kutim dalam tiga tahun terakhir,” kata Ismu menjawab pertanyaan Suara Kutim.com (SK11)