Beranda kutim Pagi Berselimut Kabut

Pagi Berselimut Kabut

479
0

BERPACU  bersama pagi yang masih berselimut kabut. Melangkah diiringi embun yang masih setia bergelayut di antara rerumputan dan rimbun pepohonan. Kicauan burung masih enggan mendendang. Semesta masih terlelap dalam sunyi dan dingin pagi, hujan semalam menyisakan aroma basah menambah rasa dingin menusuk tulang. Pagi ini adalah pagi yang begitu berkesan bagiku.

Berangkat ke sekolah “non induk” untuk melaksanakan tugas adalah semangat tersendiri bagiku. Di sana aku bisa mengajar sambil belajar bersama anak-anak dan rekan-rekan guru yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada jumlah siswa di sekolah indukku yang hanya berjumlah 50an siswa setiap tahunnya. Namun pagi ini, ada pemandangan sedikit berbeda yang kutemui. Medan yang harus kulalui tampaknya sedikit menantang. Karena hujan deras yang mengguyur desa ini semalam suntuk, air sungai hulu meluap dan mengakibatkan banjir hingga menggenangi lembah-lembah perkebunan sawit yang harus kulalui.

Sebenarnya medan yang harus dilalui oleh kendaraan roda dua, seperti jalan licin, genangan air, kubangan berlumpur,  hingga terkadang mesti jatuh bangun tergelincir untuk bisa masuk dan keluar dari desa ini adalah hal yang biasa bagi masyarakat lokal. Termasuk aku yang sudah kurang lebih tujuh tahun mengabdi sebagai pendatang di desa ini, sejak pertama kali ditempatkan menjadi pegawai negeri sipil di pulau Borneo. Akan tetapi, medan yang mengharuskan kendaraan roda dua diangkut menggunakan perahu ketika melintasi luapan air di setiap lembah perkebunan sawit adalah hal baru bagiku dan tantangan tersendiri.

Pemandangan dan pengalaman seperti itulah yang aku temui pagi ini. Mungkin, karena selama ini aku tidak pernah berani keluar dari tempat ini ketika musim hujan. Apalagi, jika melihat air sungai mulai meluap dan banjir. Akan tetapi, mengingat tanggung jawab yang harus dipenuhi, aku harus mulai terbiasa memberanikan diri.

Bulan-bulan pertama mengajar di dua tempat, aku berpikir seribu kali untuk berangkat ke sekolah ketika musim hujan. Pertama, faktor jalan licin, kedua kendaraan roda dua biasanya sangat rawan ngadat di tengah jalan ketika melewati genangan-genangan air. Ketiga, teringat pesan seorang teman bahwa sebuah tanggung jawab harus dilaksanakan akan tetapi keselamatan diri merupakan hal penting yang harus diutamakan. Namun, karena aku termasuk orang yang menyukai tantangan dan hal-hal baru yang belum pernah kulakukan, tidak ada salahnya mencoba selama merasa masih aman dan sanggup.

Pagi ini, setiap melewati luapan air di lembah perkebunan sawit, kendaraan roda dua harus dinaikkan lalu diseberangkan menggunakan ches (perahu lokal masyarakat setempat berukuran 3-5 meter, maksimal bisa mengangkut 3 kendaraan roda dua) kemudian didorong atau didayung oleh satu atau dua orang Amai (panggilan santun untuk orang yang lebih tua/bapak). Setelah sampai di tempat yang aman dan terbebas dari luapan air, kendaraan diturunkan. Adapun upah yang diberikan kepada Amai tidak dipatok dengan nominal tertentu akan tetapi seikhlasnya, tergantung dari orang yang diseberangkan sebagai ucapan terima kasih. Setelah menurunkan penumpang, Amai akan kembali mengambil kendaraan lain yang mengantre untuk diseberangkan dan penumpang akan bersiap melanjutkaan perjalanan sampai di genangan air berikutnya. Biasanya genangan atau luapan air ini berjarak sekitar 30-50 meter dengan tinggi air sebatas pinggang sampai dada orang dewasa.

Satu hal yang aku kagumi dari masyarakat setempat yaitu ketika pemandangan seperti ini terjadi, maka yang didahulukan oleh mereka untuk diseberangkan adalah anak-anak sekolahan dan tentunya aku, gurunya. Meskipun masyarakat sekitar pada umumnya tidak memiliki pendidikan akan tetapi secara perlahan mereka sudah mulai memahami pentingnya pendidikan seiring dengan perkembangan zaman.

Mulai semester ini, aku adalah seorang perempuan guru yang harus mengajar di dua tempat. Ya, pagi ini adalah pagi ketika aku harus kembali melaksanakan tugas dan tanggung jawab untuk berbagi ilmu dengan anak-anak di sekolah “non induk”. Jaraknya sekitar 20 km dari sekolah induk dan mess tempat tinggalku dengan medan harus menyeberangi sungai lalu melanjutkan perjalanan dengan kondisi jalan setapak tanpa aspal melintasi lembah dan perbukitan perkebunan sawit. Mengajar di dua sekolah merupakan keharusan bagiku jika ingin mendapatkan tunjangan sertifikasi guru. Maklum, sekolah induk tempatku mengajar merupakan sekolah kecil di pedalaman yang hanya memiliki tiga rombongan belajar (rombel) sehingga aku kekurangan jam dan harus menambah jam mengajar di sekolah lain untuk memenuhi jumlah jam standar  guru sertifikasi.

Aku selalu berpikir bahwa hal-hal baru yang kulalui, suatu saat akan menjadi kenangan, pengalaman, dan cerita tersendiri untukku. Motivasi diri yang selalu kubangun yaitu bahwa orang yang berhasil adalah orang yang selalu berupaya untuk bisa berbagi manfaat bagi sesama. Karena aku adalah seorang guru maka aku harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengajar dan mendidik anak-anak negeri, dan tentunya mesti siap dengan berbagai macam risiko. Selain motivasi diri untuk berbagi manfaat, aku juga selalu mengingat bahwa mengajar adalah ibadah dan mencerdaskan anak bangsa adalah salah satu tanggung jawab guru.

Hal lain yang selalu terlintas dibenakku yaitu “kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi” aku bisa berguna bagi orang lain (Motto kota kelahiranku).  Berbagi manfaat sambil merasakan pengalaman baru, tidak semua orang bisa dan memiliki kesempatan. Bak pepatah “sambil menyelam minum air”. Seperti itulah yang kurasakan sambil mengajar, belajar hal baru, dan mengalami kisah baru.

Melihat wajah anak-anak yang menunggu kedatanganku dan semangat mereka menyapa dan memberi salam setiap aku masuk ke kelas, membuat tantangan perjalanan yang kulalui terasa lebih bermakna dan rasa lelah menguap begitu saja. Aku tidak pernah menuntut banyak dari mereka, cukup mereka rajin ke sekolah, masuk ke kelas dan mendengarkan materi, cerita, nasihat-nasihat, dan mengerjakan apa yang diberikan oleh guru. Persoalan harus pintar atau cerdas bukanlah masalah bagiku, yang penting sikap dan karakter mulia harus selalu ditanamkan dalam diri.

Aku sangat bersyukur untuk setiap proses yang kulalui. Satu hal yang kupelajari yaitu ketika segala sesuatu dilakukan dengan hati, semua terasa menyenangkan. Berharap semoga hati ini selalu diberi keikhlasan untuk melaksanakan amanah. Aamiin. *** (Nuraemi – Guru SMP Negeri 2 Telen )