Beranda hukum Pemkab Kutim Harapkan Dukungan KPC Tangani Sampah di Sangatta

Pemkab Kutim Harapkan Dukungan KPC Tangani Sampah di Sangatta

79
0

SANGATTA (8/8-2020)

Pemkab Kutim akan melakukan dialog dengan KPC yang sempat menjanjikan akan menghibahkan lahan eks tambangya untuk menjadi TPA sampah rumah tangga di Sangatta Utara dan Selatan.

 Plt Bupati Kutim menyebutkan saat ini, TPA Batota sudah tak layak lagi, sehingga jika ditambah beban lagi akan menyebabkan masalah baru. Saat ini, ujar Kasmidi, sampah di Batota sudah  menggunung  karena  tidak ada pengolahan sampah yang dapat mengurangi volume sampah yang masuk tiap hari puluhan ton. “Jadi ini kita mau koordinasikan lagi dengan  KPC terutama lahan yang sempat dijanjikan,  tapi pemkab berharap  lahan bekas tambang KPC  yang ada di Jalan Sangatta – Bengalon yang tidak jauh dari Batota,” sebut Kasmidi.

Selain itu, untuk pengolahan sampah di TPA dilokasi baru, diharapkan  KPC ikut membantu  pengadaan alat modern  yang beberapa bulan lalu ditinjau GM KPC bersama dengan Bupati Kutim, Ketua DPRD. “Kini, pemkab berharap janji KPC untuk pengadaan alat modern yang mampu membakar semua sampah bisa diwjudkan,” ungkap Kasmidi.

Keterangan yang didapat Kasmkidi, pembakar sampah yang pernah ditinjau Bupati Ismunandar bersama  GM KPC,  sebagai alat yang mampu mengolah sampah dilokasi yang kecil. Arfan, wakil Ketua DPRD Kutim yang ikut dalam peninjauan mengakui  alat yang mereka tinjau  mampu mengatasi masalah sampah di Sangatta.

“Mengolah sampah itu sudah tidak mahal, untuk ukuran pemerintah. Di Bandung, yang kami lihat, satu kota besar, pengolahan sampahnya di dalam kota, lahan mungkin hanya sekitar 3000 meter persegi, ternyata bisa. Kami yakin dengan teknologi yanga  bisa mengatasi sampah di Sangatta,” ujar Arpan ketika ditanya wartawan.

 Ia menambahkan, mesin pengolahan sampah yang ada di Bandung,  untuk  Sangatta dan Bengalon  tidak sulit karena hargaya  Rp5 miliar. “Tidak berat bagi Pemkab, alat itu  selain murah, tidak butuh lahan banyak, menariknya tidak  mengganggu lingkungan. Berbeda dengan TPA, yang butuh lahan luas, mengganggu lingkungan dan punya kapasitas terbatas. Akibatnya, hanya dalam beberapa tahun, bisa pindah , cari lahan lagi. Padahal, cari lahan ini sangat sulit. Karena itu, sebaiknya mengunakan teknologi, agar lebih efisien,” beber Arpan seraya menyebutkan  teknologi yang dikembangkan menerapkan Thermal Hydro Drive (THD) yang hanya fokus mengelola sampah organic dengan hasil pertama seperti pasir, kemudian dikompres menjadi batako. (SK5)