Beranda hukum Penyakit Arpandi Masih Didiagnosa, Namun Akui Minum 10 Biji Tramadol

Penyakit Arpandi Masih Didiagnosa, Namun Akui Minum 10 Biji Tramadol

1253
0
BERBAGI
Arpandi (19) yang mendapatkan perawatan di UGD RSU Kudungga Sangatta, karena gelisah terpaksa kedua tangannya diikat dengan kain kasa agar tidak menganggu infus yang ada.

SANGATTA (5-10-2017)
Arpandi (19) hingga pukul 14.00 Wita masih menjalani perawatan di UGD RSU Kudungga Sangatta. Pria yang mengaku dari Mamuju ini, mendapat perhatian tim medis. Namun, hasil laboratorium dari sampel urin tidak ditemukan kandungan Narkoba, sementara dugaan malaria masih dalam diagnose.

dr Carlos – Pimpinan Puskesmas Karangan dan Jumran – Kasi Hukum dan Humas RSU Kudungga saat memberikan keterangan.
Jumran – Kasi Hukum dan Humas RSU Kudungga Sangatta Utara, menerangkan belum ada kesimpulan medis karena diagnose sedang dilakukan, namun ia mengakui, pria yang mengaku dari Mamuju ini tampak gelisah. “Kita belum mengetahui apa penyebabnya, karena diagnose belum final sementara untuk mendapatkan sampel urin belum bisa karena belum bisa kencing,” terangnya ketika disambangi wartawan di UGD RSU Kudungga.
Terhadap pemeriksaan kencing yang diambil pukul 05.00 Wita tadi, belum ditemukan unsur Narkoba. Sementara untuk pemeriksaan lainnya, belum bisa karena Arpandi belum mau minum sehingga tak bisa kencing.
Dr Carlos – Pimpinan Puskesmas Karangan menerangkan dalam keadaan setengah sadar, pria yang bermaksud bekerja di Karangan ini, sempat minum tramadol sebanyak 10 biji.
Obat pereda rasa sakit untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat ini, kata Carlos, diakui Arpandi dibawa sendiri.
Baik Jumran maupun Carlos, sama-sama mengakui tramadol termasuk obat keras yang penggunaanya harus menggunakan resep dokter. “ Tramadol memengaruhi reaksi kimia di dalam otak dan sistem saraf yang pada akhirnya mengurangi sensasi rasa sakit, namun bila dikonsumi banyak bisa berbahaya juga. Jangankan tramadol, obat biasa saja jika over dosis menyebabkan masalah lain,” sebut Carlos.
Seperti diwartakan, seorang pria semula diduga menggunakan PCC. Pria yang mengaku tak punya family di Kutim, ditemukan masyrakat di Karangan. Pria yang baru saja tinggal di Karangan sempat ditinggal disebuah rumah warga, namun belakangan terlihat kejang-kejang sehingga dibawa ke Pospol Karangan, setelah itu diantar ke Puskesmas Karangan. “Semula dikira terkena malaria, namun saat dites dengan alat yang ada negatif,” ujar dr Carlos.
Di UGD RSU Kudungga, ditempatkan di ruang khusus. Kedua tangannya terpaksa diikat menggunakan kain kasa. “Tanganya diikat karena sering bergerak, ditakutkan mengenai selang infus,” kata seorang petugas di UGD.(SK2/SK3/SK11)