Beranda kesehatan Pertamina Ajak Desa Belajar Kelola Sampah di Bontang

Pertamina Ajak Desa Belajar Kelola Sampah di Bontang

157
0
Sejumlah aparat desa se Kecamatan Sangatta Selatan saat berkunjung ke tempat-tempat pengolahan sampah di Bontang.(Foto Humas Pertamina Sangatta)

SANGATTA (7/5-2019)

Mengatasi sekaligus mencegah penumpukan sampah rumah tangga serta membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi pundi-pundi rupiah, PT Pertamina EP Asset 5 Sangatta Field bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mengundang aparat Kecamatan Sangatta Selatan, Desa Sangkima dan Desa Teluk Singkama beserta Direktur Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan tokoh masyarakat untuk mengikuti kunjungan belajar cara pengelolaan sampah ke Kota Bontang.

Kunjungan ke Bontang belum lama ini, bertujuan meningkatkan pengetahuan aparat dan masyarakat terkait sampah. Sampai saat ini, kata Hermansyah Y Nasroen – Public Relation Manager Pertamina, sampah  menjadi masalah di setiap daerah.

Disebutkan, pada Tahun 2019  secara bertahap PT Pertamina EP Asset 5 Sangatta Field berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan khususnya dalam penanganan sampah di sekitar wilayah Taman Nasional Kutai (TNK) melalui perjanjian kerjasama yang dituangkan dalam program Pengelolaan Sampah 3R Berbasis Masyarakat yang nantinya akan menyasar desa  di Kecamatan Sangatta Selatan. Disebutkan, saat bertandang ke Bontang, lokasi yang dikunjungi yakni Bank Sampah Induk yang dikelola  Dinas Lingkungan Hidup Kota Bontang. Bank Sampah yang mengusung konsep “Pengolahan Sampah Terpadu” ditemukan petugas sedang memproses pemilahan antara sampah rumah tangga organik dan non-organik, dengan volume sampah berkisar 10-11 tonperhari.

Bank Sampah Kota Bontang, kata Hermansyah, sudah menggunakan teknologi teranyar dalam proses pengolahan sampahnya ini  terlihat saat  petugas memilah sampah yang berjalan di atas conveyor sepanjang ±20 meter. “Sampah non-organik berupa plastik dipilah secara manual oleh petugas dan sampah organik akan berjalan di conveyor hingga ke bak penampungan yang berada di ujung mesin. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang kemudian akan dikemas ke dalam karung kecil dan siap dipasarkan. Penggunaan mesin ini mampu menghemat waktu pemilahan sampah sebelum dilakukan proses pengolahan,” cerita Hermasnyah.

Selama di Bontang, rombongan, sebut Hermansyah berkunjung ke  lokasi Pencacahan dan Produksi Biji Plastik (PROBISTIK) di Kelurahan Bontang Lestari. Peserta kunjungan belajar disuguhi pemandangan ratusan karung besar berdiameter 2 meter berisi aneka botol plastik bekas pakai. Sesuai dengan namanya, tempat ini dilengkapi dengan alat pencacah plastik.

Meski  proses manual yang terlihat, pekerja perempuan membersihkan tempat air kemasan berupa botol dan gelas plastik. Hal ini penting karena gelas air kemasan yang bersih merupakan produk yang nilai jualnya paling tinggi. “Tak tanggung-tanggung, usaha pengolahan sampah plastik ini menghasilkan omzet hingga Rp116 juta per bulan.,” sebutnya seraya menambahkan kunjungan berakhir  di Kelompok Mekar Sari yang merupakan rumah produksi kompos yang dilakukan sejumlah ibu  rumah tangga di Kelurahan Guntung.

Terpisah, Asset 5 Legal & Relation Manager Anton Sumartono Raharjo mengharapkan dengan kunjungan belajar,  pihak yang nantinya terlibat dalam pengelolaan sampah di masing-masing desa dapat mendapatkan gambaran proses pengolahan serta manfaat sampah secara rupiah yang semoga dapat menambah motivasi diri untuk berpartisipasi secara total dalam program Pengelolaan Sampah 3R Berbasis Masyarakat inisiasi Pertamina EP Sangatta Field dan Balai TNK.(SK3)