Beranda kutim Sampah Kurang Dikelola, Jadi Bencana Lingkungan Bagi Manusia

Sampah Kurang Dikelola, Jadi Bencana Lingkungan Bagi Manusia

60
0

SANGATTA (11/7-2018)
Mengelola sampah rumah tangga dan lingkungan sebuah aktifitas yang “sulit-sulit mudah” karena jika sampah dan lingkungan dikelola secara tepat maka bukan hanya akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, akan tetapi juga mampu mendatangkan keuntungan secara finansial bagi masyarakat itu sendiri.
Namun sampah, kata Bupati Ismunandar bisa mendatangkan petaka dan permasalahan jika tidak dikelola secara tepat dan benar. Lingkungan kotor dan akibatnya kesehatan terganggu sehingga aktifitas masyarakat lainnya lainnya terganggu.
Dihadapan undangan dan relawan lingkungan hidup, Rabu (11/7) di ruang Akasia Gedung Serba Guna (GSG) Pemkab Kutim, selaku kepala daerah menyatakan dukungannya secara penuh 1000 persen terhadap pembentukan relawan lingkungan yang diambil dari 214 RT se-Sangatta Utara tersebut.
Ditegaskannya, mengelola sampah bukanlah soal baru bagi dirinya. Sejak tahun 2003, waktu menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kutim, berbagai usaha untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan tempat tinggal warga selalu diupayakan, termasuk pemberian tong-tong sampah berbahan drum.
Namun kemudian oleh masyarakat, tong-tong tersebut dibawa pulang ke rumah untuk dijadikan tempat penampungan air. Bahkan ketika median jalan di Yos Sudarso dengan harapan berfungsi sebagaimana mestinya pada tahun 2006, ternyata kemudian dipergunakan warga untuk menjadi tempat penumpukan sampah.
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk ikut bersama menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka. Hal ini terlihat dari kegiatan Gerakan Jum’at Bersih (GJB) yang digalakkan pemerintah dan melibatkan berbagai unsur, mulai PNS hingga TNI-POLRI. Namun sayangngnya, kata Ismu, masyarakat sekitar lokasi kegiatan GJB hanya menonton saja tanpa mau ikut ambil bagian terlibat dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan tersebut.
Hadirnya pola gerakkan yang didasari oleh rasa kepedulian para pemuda-pemudi di Kutim, diharapkan menjadi cara jitu dalam mengatasi persoalan di Ibukota Kabupaten Kutim ini. Selain itu, gerakan ini harus menjadi sejarah Kutim yang wajib dicatat menggunakan tinta emas bahwa pemuda-pemudi di Kutim ambil bagian dalam upaya penanggunalangan problema daerah, tertama dalam mengatasi masalah pengelolaan sampah rumah tangga dan lingkungan. Tidak hanya itu, motto “Sampah Menjadi Berkah” yang dihadirkan oleh rekan-rekan muda, memacu ingatan pada motif para pendatang menuju Kutai Timur. Sehingga pendatang ke kutim tidak hanya disebabkan magnet batubara, tetapi juga mampu melihat peluang dalam pengelolaan sampah yang memiliki nilai nominal.(ADV-KOMINFO)