Beranda ekonomi Sawit Melemah, Joni Ajak Masyarakat Beralih Ke Kakao

Sawit Melemah, Joni Ajak Masyarakat Beralih Ke Kakao

128
0

Sangatta. Bagaikan air laut yang memiliki pasang dan surut, sebuah komoditas pangan ataupun perkebunan juga mengalami hal yang serupa. Salah satunya komoditas perkebunan kelapa sawit. Sempat jaya diera 90 hingga 2000an, kini akibat adanya sentimen luar yang menganggap sawit tidak ramah lingkungan menyebabkan harga buah sawit segar anjlok di pasaran dunia. Bahkan di wilayah Kutai Timur sendiri, petani sawit yang sempat berjaya karena sempat menikmati tingginya hasil penjualan buah segar sawit, kini harus menerima kenyataan bahwa harga buah segar sawit hanya dihargai Rp 400 rupiah perkilogramnya.

Joni – Anggota DPRD Kutim

Menurut anggota DPRD Kutim, Joni jika saat ini adalah massa dimana para petani sawit yang pernah merasakan puncak kesuksesan harus jatuh terjerungkup, akibat hancurnya harga sawit di pasaran. “Petani sawit harus menerima kenyataan jika sawit kini sedang tidak berada dipuncak kejayaannya seperti dulu. Bahkan hasil panen sawit yang ada sekarang tidak mampu menutupi ongkos atau pengeluaran selama melakukan perawatan kebun sawit,” tuturnya.

Lanjut Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini, sudah saatnya masyarakat beralih kepada komoditi perkebunan lainnya yang lebih menjanjikan dan masih dianggap ramah lingkungan oleh dunia. Salah satu komoditas perkebunan yang kini sudah ditinggalkan masyarakat Kutim, yakni berkebun kakao. “Dulu, Kutim pernah Berjaya dengan hasil tanaman Kakao-nya. Bahkan Kecamatan Teluk Pandan hingga Sangatta Selatan, sempat menjadi sentra penghasil kakao lokal asli Kutim. Kini sudah saatnya beralih haluan dan kembali ke kakao,”

Lebih jauh Joni mengatakan, saat ini Pemkab Kutim memang mulai melirik pembudidayaan kakao. Bahkan Dinas Perkebunan (Disbun) Kutim, sudah melakukan komunikasi dengan DPRD Kutim terkait rencana pembuatan pabrik pengolahan kakao di Kutim. “Disbun sudah komunikasi dengan kami, terkait rencana mendirikan pabrik kakao di Sangatta. Namun memang lokasinya belum fix, akan didirikan dimana. Tetapi dengan adanya rencana ini, maka masyarakat bisa mengambil peluang untuk kembali membudidayakan tanaman kakao. Terlebih harganya jauh lebih stabil jika dibandingkan sawit,” pungkas Joni.