Beranda hukum Stress dan Daya Beli Pengaruhi Kasus Pidana di Kutim

Stress dan Daya Beli Pengaruhi Kasus Pidana di Kutim

233
0

SANGATTA (16/7-2019)

 Tingginya daya beli masyarakat ditambah besarnya beban hidup di Kutim yang membuat stress, diduga menjadi penyebab  angka kriminalitas terutama penyalahgunaan Narkoba.  Ketua PN Sangatta, Rahmat Sanjaya, belum lama ini menyebutkan kesimpulan yang ia kemukakan,  kerap  terungkap dalam  persidangan dan menjadi alasan bagi para terdakwa pelaku kejahatan, terutama di kasus narkotika.

Didampingi Humas PN Sangatta, Andreas Pungky Maradona, dijelaskan,   kasus narkotika mendominasi dan berada dalam peringkat pertama  yang disidangkan di PN Sangatta. Meski mengaku tidak mengetahui pasti perbandingan tingkat kasus narkotika di wilayah Kutim dengan kabupaten dan kota  lainnya di Kaltim, namun ia menyakinni meningkatnya daya beli masyarakat turut menjadi faktor pendukung meningkatnya kasus narkotika di Kutim.

“Pengalaman saya  di beberapa daerah yang memang dikenal tingkat ekonominya rendah, kasus narkotika  rendah. Hal ini dimungkinkan bahwa daya beli masyarakat tidak mampu untuk membeli narkotika jenis sabu atau ekstasi, sementara jika ingin mabuk, cukup dengan minuman tradisional saja yang terkenal murah meriah,” beber Rahmat Sanjaya yang pernah bertugas di sejumlah daerah yang SDA tidak sekaya Kutim.

Terkait  kasus pencabulan, diakuinya selama ini  menempati  peringkat kedua, terutama kasus yang menjadikan anak-anak di bawah umur sebagai korban. Hal ini kemungkinan akibat beratnya hidup dan tinginya tingkat strees, terutama bagi masyarakat yang bekerja di lokasi perkebunan sawit. Sedangkan untuk kasus kriminal lainnya, seperti pencurian, perampokan dan pembunuhan, berada di dibawah pecabulan.

Ditambahkan Andreas, hingga bulan  Juni tercatat 100 perkara pidana sudah mendapat vonis putus o Majelis Hakim PN Sangatta. Sedangkan hingga kini masih ada lebih kurang 50 kasus lagi yang masih berproses persidangan, dan didominasi oleh perkara narkotika jenis sabu. “Sidang pekara Narkoba hampir terjadi setiap hari, kalau diamati dalam sepekan putus dua atau tiga namun yang masuk lima pekara,” beber Andreas Pungky Maradona.(SK3)