Beranda kutim Udara dan Angin Kurang Bersahabat, Penerjunan Sempat Ditunda 2 Kali

Udara dan Angin Kurang Bersahabat, Penerjunan Sempat Ditunda 2 Kali

556
0
BERBAGI
Suasana dalam perut Cassa U-516 menjelang penerjunan yang sempat ditunda 2 kali karena udara dan angin yang kurang bersahabat.

SANGATTA (12/10-2017)
Aksi penerjunan yang dilakukan anggota Batalyon Taifib 1 Marinir Surabaya – Jatim, benar –benar terganggu cuaca buruk. Angin yang dua hari sebelumnya bersahabat, sehingga membuat jalur pendaratan penerjun jadi mudah, hari ini malah sebaliknya.
Dengan kecapatan rata-rata 5 knot, angin diketahui berubah-berubah arah di setiap tingkatan. Kondisi inilah yang sempat menuda penerjunan tim pertama yang berjumlah 5 orang.
Suara Kutim.com yang mengikuti penerbangan tim penerjun di ketinggian 10.000 meter dari permukaan laut, menyaksikan langsung detik-detik ketika penerjun pertama akan loncat tiba-tiba ditunda untuk 5 menit.
Dalam posisi stand bay dan menghadap pintu pesawat yang sudah terbuka lebar, lagi-lagi penundaan terjun dilakukan, bahkan kali ini untuk waktu 10 menit. “Udaranya kurang mendukung untuk atraksi terjung payung, karena atraksi terjung payung yang dilakukan keindahan penerjun ketika bermanuver dan mendarat,” terang Letda Marinir Saifudin.
Setelah pesawat Cassa U-615 milik TNI Angkatan Laut yang diawaki Kapten Laut (P) Marco YA dan Lettu Laut (P) Faisal M berada di atas Selat Makassar, lima penerjun langsung keluar dari perut pesawat.
Beberpa menit kemudian, tim kedua menyusul namun sayangnya udara di atas Bukit Pelangi (BP) tambah mendung dan angin bertiup kencang.
Masalah angina dan kondisi udara yang gelap, menjadi perhatian para penerjun. Mereka kerap kali melakukan pembahasan kecil, terutama Letda Marinir Saifuddin sebagai komandan tim penerjun.
Pria yang bertugas membawa lambang Kutim ini tak henti-hentinya berkomunikasi dengan pilot dan tim darat. Bagi anggota tim, boleh tidaknya mereka meloncat berdasarkan perintah pria yang sudah terjun lebih 5 ribu kali ini. “Jika angina tak bersahabat, kami akan terjun dengan jarak jauh artinya tidak boleh berdekatan seperti saat latihan karena akibat hembusan angina terjadi tabrakan antarpenerjun, itu berbahaya sekali,” terangnya.
Ternyata benar saja, 3 penerjun yang membawa sejumlah bendera termasuk Bendera Merah Putih tidak bisa sesuai harapan, ini tiada lain mereka menghindari tabrakan di udara.
Meski ada penerjun mendarat di luar areal, namun ribuan warga Sangatta kagum dengan kepiawian penerjun. Kemudian sebagai penghormatan, pesawat Cassa U-615 yang kali pertama mengudara 5 Januari 1989, melintas rendah di atas areal pendaratan yang berada di Kantor Bupati Kutim namun sayang awak pesawat termasuk Suara Kutim.com tak bisa mendapatkan gambar bagus karena hujan.(SK2/SK3/SK12)