Beranda kutim Alam Marah, Hitungan Menit Pantai Talise Hancur Berantakan

Alam Marah, Hitungan Menit Pantai Talise Hancur Berantakan

849
0
Kondisi Pantai Talise Palu sebulan pasca gempa bumi dan tsunami, Jumat (28/9) lalu.

BERTANDANG ke Palu, tidak lengkap jika tidak mampir di salah satu obyek wisata bernama Pantai Talise – sebuah pantaoi yang berada di Teluk Palu Sulteng. Keindahan Teluk Palu ditambah dengan Jembatan Kuning (karena warna catnya Kuning,red) namun sebetulnya Jembatan yang menghubungkan Kecamatan Palau Barat dengan Palu Timur ini sekaligus penghubung Palu dengan Donggala ini disebut Jembatan Palu IV.
Jembatan yang panjangnga 250 meter ini, menambah keindahan Pantai Talise terlebih di kala senja. Tak jauh dari Jembatan Kuning, terdapat areal terbuka yang menjadi taman atau tempat berbagai berbentuk kegiatan baik masyarakat maupun pemerintah.
Di lokasi inilah, Pemkot Palu didukung Pemprov Sulteng menggelar Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) yang pada tahun 2018 merupakan yang ketiga kali digelar, dan berlangsung 3 hari.
Namun siapa sangka, festival akan dibuka Jumat malam itu, tinggal rencana. Beberapa jam sebelum pembukaan, Pantai Talise yang tampak tenang tiba-tiba marah kemudian menghantam apa saja yang ada di bibir pantai, ratusan bangunan termasuk hotel mewah yang menghadap Teluk Palu disapu bersih oleh gelombang tsunami, sebelumnya gempa bumi dengan berkuatan 7,4 SR terlebih dahulu mengoncang sehingga banyak warga keluar ke jalan namun tak lama datang gelombang.
Ribuan orang yang berada di sepanjang Pantai Talise dikabarkan tersapu gelombang tsunami, selain itu warga yang berada dalam rumah juga ikut tersapu. “Pokoknya apa saja yang ada disapu habis, belum reda panik dengan guncangan gempa bumi datang gelombang tsunami sehingga warga tak sempat menyelamatkan diri termasuk ratusan pendukung malam pembukaan Festivan Nomoni yang sudah melakukan persiapan sejak sore,” kata Rahmad (45) warga sekitar Pantai Talise.
Kepada Suara Kutim.com, Rahmad menceritakan keindahan Pantai Talise yang dibuat bertahun-tahun dan kesemarakan Festival Nomoni, hanya dalam hitungan menit beratakan. Dalam kegelapan malam, ujar pria yang mengaku kehilangan sejumlah kerabat ini, yang terdengar rintihan orang meminta pertolongan, namun tidak ada yang banyak diperbuat karena semua gelap gulita. “Masing-masing berusaha menyelamatkan diri, terlebih gempa susulan yang kerap terjadi sehingga banyak warga yang selamat tidak berani berada dalam rumah atau gedung seperti hotel dan mall,” sebut Rahmad.
Sebulan setelah tragedi mengenaskan itu terjadi, pemadangan di Pantai Talise jauh dari kata indah. Jalan yang dulunya bersih, bahkan seperti jalan di Patayya Thailand, kini menjadi berdebu tak ada aspal. Bibir pantai Teluk Palu semakin mendekat, bangunan-bangunan megah menjadi kosong melompong dan terkesan angker.
Hotel Mercure yang saat gempa bumi menguncang Palu yang dikabarkan penuh dengan tamu, roboh tak berdaya. Hotel yang menjadi salah satu titik operasi tim Rescue PT KPC ini, meski mulai dibersihkan namun masih terlihat kerusakannya.
Pasca gempa dan tsunami, jalan Pantai Talise dijadikan tempat pengumpulan jenazah, sementara Jembatan Kuning yang tampak kokoh dan menjadi penghias Pantai Talise, ambruk. Warga yang datang ke Pantai Talise, bukan untuk melihat keindahannya lagi tetapi ingin menyaksikan keganasan gempa bumi dan gelombang tsunami yang dikabarkan merenggut lebih 2 ribu orang, dan merusak bangunan termasuk ribuan kendaraan bermotor. “Alam marah, hanya dalam beberapa menit saja semua hancur,” kata Rahmad seraya menyapu air matanya karena teringat akan kerabat dan teman-temanya yang hingga kini belum ditemukan.(Syafranuddin)

Artikulli paraprakPukul 08.15 Wita, Hentikan Kegiatan Untuk Mengheningkan Cipta
Artikulli tjetërJoni : Perusahaan Harapkan Bantu Petani Sawit