Beranda ekonomi Camat Furkani : Kongbeng Surga Bagi Warga Pendatang, Mereka Enggan Kembali

Camat Furkani : Kongbeng Surga Bagi Warga Pendatang, Mereka Enggan Kembali

2229
0
Sejumlah pedagang makanan keliling saat berlangsung pencanangan Bulbak Gotong Royong se Kutim belum lama ini, mereka umumnya warga pendatang namun sukses berusaha.

KONGBENG,Suara Kutim.com (5/6)

Camat Kongbeng Furkani
Camat Kongbeng Furkani
Warga Kongbeng eks peserta trasmigrasi enggan kembali ke kampung halamannya meski disediakan biaya gratis. Mereka, kata Camat Kongbeng Furkani sudah menyatakan Kongbeng merupakan tanah kelahiran dan harapan.
Kepada Suara Kutim.com, Furkani menyebutkan warga Kongbeng kini terus bertambah dari bulan ke bulan karena banyak warga perantau sukses mengais rejeki. “Sekarang transportasi tersedia banyak, kapan saja warga mau berpergian selalu ada, “ ungkapnya disela-sela menerima kedatangan Plt Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman belum lama ini.
Diakui, Kongbeng sebagai daerah pemekaran Kecamatan Muara Wahau namun pertumbuhan ekonominya jauh lebih besar dari Muara Wahau. Ia menggambarakn, warga yang bertransaksi di bank tinggi bahkan sebelum bank dibuka sudah antri.
Informasi yang didapat Furkani, perputaran uang di Kongbeng dalam sepekan mencapai Rp30 M terbanyak dari transaksi penjualan sawit. Ia mengakui, kehadiran perkebunan kelapa sawit memberi dampak positif terhadap peningkatan ekonomi rakyat. “Jika dulu warga Kongbeng banyak menderita karena usaha kebun dan sawah tidak memberikan apa-apa, kini terbalik bahkan dijual Rp100 juta saja untuk lahan satu mereka enggan,” beber mantan pegwai Kecamatan Muara Wahau ini.
Pengakuan Furkani dibenarkan sejumlah warga pendatang yang mengadu peruntungan di Kongbeng. Salah satunya seorang pedagang nasi pecel dan nasi kuning yang mengaku bernama Sarti (39) asal Trengalek, sejak dua tahun terakhir ia membuka warung makan penghasilan bersihnya minimal Rp300 ribu.
Sementara Suparman – asal Tulung Agung mengaku baru 6 bulan berada di Kongbeng sebagai sopir truk pengangkut CPO. Meski ia mengaku resikonya cukup besar, namun sekali jalan membawa CPO ke Berau ia mendapat upah Rp600 ribu suatu penghasilan jauh lebih besar ketika ia menjadi sopir angkot di Tulung Agung. “Dalam sebulan minimal membawa sepuluh kali, sedangkan BBM dan kendaraan semuanya ditanggung bos atau pemilik truk,” terang Suparman.
Demikian Anto, Sarji dan Iwan yang setiap hari berdagang pakaian keliling. Warga Jawa Timur ini mengaku sudah setahun di Kongbeng dengan usaha dagang pakaian. “Di Kongbeng ini asal mau kerja saja, Insya Allah pasti dapat uang beda di kampung mas cari uang sulit,” beber Anto yang menyebutkan lebaran nanti pulang kampung dan telah beli tiket pesawat.(SK-03/SK-06/SK-011)

Artikulli paraprakSuyono : KTI Lakukan Pembenahan Internal Dulu Baru Usaha
Artikulli tjetërMeski Terbatas, Kutim Optimis Tingkatkan PAD