Beranda kutim Catatan Perjalanan Haji (11)

Catatan Perjalanan Haji (11)

535
0
Dalam mengenakan ihram, jamaah haji saat tawar menawar dengan pengemudi taksi. Di Makkah dan Madinah, umumnya tak menggunakan argo meski argonya jalan.

Menjelang dan Pasca Wukuf Tarif Taksi Mencekik Leher

MELAKSANAKAN Ibadah haji waktunya telah ditentukan yakni pada tanggal 8 hingga 13 Dzulhijah, sementara jamaah haji akan berada di Makkah dalam waktu lebih 3 pekan terlebih bagi jamaah gelombang II yang terlebih dahulu ke Makkah baru Madinah.

                Selama berada di Makkah, jamaah hanta disibukan dengan kegiatan rutin yakni beribadah di Masjidil Haram sebanyak-banyaknya. Sebagai kota pusat utama rangkaian ibadah haji , 3 hari menejlang wukuf, Kota Makkah semakin padat.

Taksi di Makkah

                Setiap musim haji ada 3 juta jamaah haji yang berkumpul di Makkah, termasuk jamaah asal Indonesia gelombang pertama yang sebelumnya di Madinah. Seirama padatnya Kota Makkah dengan jamaah haji, pemerintah Arab Saudi akhirnya menutup sejumlah ruas jalan terutama dalam ring 1 atau yang dekat dengan Masjidil Haram.

                Akibat penutupan sejumlah jalan ini, tak satupun kendaraan umum termasuk pribadi kecuali ambulance, PMK, mobil jenazah dan keluarga atau pemerintah Arab Saudi yang bisa masuk ring 1. Bahkan bus-bus shalawat sudah tidak dioperasikan lagi, akibatnya jamaah haji yang berada di luar ring 1 harus jalan kaki jika ingin beribadah di Masjidil Haram.

               Kalau ada taksi yang mau mengantar ke Masjidil Haram, hendaknya wajib diwaspadai karena tidak mungkin bisa melewati pembatas yang dijaga ketat aparat keamanan selama 24 jam. Dalam situasi demikian, tarif taksi tiba-tiba berubah dari harga satu mobil berubah menjadi perkepala bahkan tarifnya benar-benar mencekik leher yakni antara 50 hingga 200 Riyal Saudi. Celakanya, kerap kali jamaah yang tak mengenal jalan, diturunkan jauh dari Masjidil Haram akibatnya harus jalan kaki juga.

                Karenanya, jamaah haji diimbau menjelang Wukuf ini, jamaah diimbau tidak melaksanakan ibadah di Masjidil Haram tetapi di pemondokan. Tujuannya selain harus jalan kaki – kadangkala beberapa jam sebelum waktu shalat jalan menuju Masjidil Haram sudah ditutup, juga untuk menjaga fisik dan kesehatan sehingga pada saat Wukuf, Mabit di Musdalifah, melontar dan bermalam di Mina dalam keadaan prima.(bersambung/syafranuddin)

Artikulli paraprakBupati Ajak Masyarakat Meningkatkan Kewaspadaan
Artikulli tjetërSudah Dipertimbangkan Matang-Matang Soal Pinjaman ke Bank Jateng