Beranda ekonomi Catatan Perjalanan Haji (18)

Catatan Perjalanan Haji (18)

762
0

SANGATTA (6/4-2019)

Jamaah haji tahunn 2018 saat beristirahat setelah menguras air mata dan metalnya di Arafah.

Air Mata, Fisik dan Mental Terkuras di Arafah

PUNCAK Haji adalah wukuf di Arafah karena itu ada perbedaan antara haji dengan umrah, kalau umrah tidak ada wukuf di Arafah sementara haji wajib hukumnya. Karena wajib, setiap jamaah haji pada saat waktu wukuf dimulai yakni usai shalat zuhur, wajib berada di Arafah.

Tenda jamaah haji di Arafah

                Jamaah haji yang sedang sakit berat, akan dibawa ke Arafah lewat program safari wukuf meski hanya beberapa menit di Arafah. Dengan melakukan wukuf di Arafah meski sakit, maka status ibadah hajinya menjadi sah.

                Sementara bagi jamaah yang sehat waalfiat, wajib berada di Arafah hingga Magrib sebelum ke Mudaslifah dan bermalam di Mina setelah melontar jumrah Aqabah. Sekedar diketahui Arafah  dahulunya kawasan padang pasir yang terletak 25 Km sebelah Timur kota Makkah.

                Kawasan yang disebut-sebut padang masyar ini, sejak beberapa tahun terakhir telah mulai hijau karena Pemerintah Arab Saudi sudajh menggalakan penghijauan meski harus mengeluarkan biaya besar dengan menanam sejumlah tanaman diantaranya dikenal dengan Pohon Soekarno yang daunnya kecil dan berbunga warna kuning.

                Padanga Arafah sendiri luasnya hanya 3,5 Km2 namun disini jutaan jamaah haji berkumpul, mereka datang dari berbagi penjuru dunia mengenakan ihram yang serba putih. Tak heran sekitar Jabal Ramah, dari bukit terlihat jelas pemadangan luar biasa dan mengharukan.

                Usai shalat zuhur, dan khotbah serta doa bersama, semua jamaah mulai melaksanakan kewajibannya yakni berdoa sebanyak-banyaknya termasuk melakukan shalat dan hal-hal lainnya. Dengan balutan ihram – kain tak berjahit, jamaah diingatkan akan kematian dimana pakaian yang dikenakan adalah kain tak berjahit apapun profesi dan kedudukannya.

                Menyadari akan posisi sebagai manusia yang bakal mati dan tidak akan membawa harta benda apapun kecuali amal shaleh yang telah dicatat malaikat, hampir semua jamaah menangis. Doa – doa dan harapan serta permohonan ampun kepada Allah SWT akan dosa orang tua, keluarga dan pribadi tak henti-hentinya disampaikan terlebih-lebih saat ini kesempatan  berhaji hanya satu kali dalam seumur hidup.

                Karena itu, selama berada di Arafah hendari pertikaian, perkuat kendali emosi. Jika ada kesalahan teman hendaknya disambut biasa dan dibalas dengans senyum, terlebih kita masih memakai  Ihram pakaian terakhir kita.

                Yang tak kalah pentingnya, jamaah wajib menjaga kesehatannya yakni perbanyak minum meski tak haus, makan buah-buahan serta kurma sehingga tenaga tetap prima karena setelah wukuf, jamaah akan menjalani kewajiban lainnya yakni mabit di Musdalifah, melontra Jumrah Aqabah, Tahalul dan bermalam di Mina hingga tanggal 14 Zulhijah.(Syafranuddin/bersambung)

Artikulli paraprakAnggota ORARI Wafat Saat Tugas
Artikulli tjetërImanuel Manege : Reklamasi Tambang KPC Jauh Diatas Kewajiban