Beranda ekonomi Catatan Perjalanan Haji (23)

Catatan Perjalanan Haji (23)

571
0
Shalat subuh berjamaah sekitar Jamarat Aqabh sebelum melanjutkan perjalanan ke Masjdil Haram untuk shalat Idul Adha.

Alhamdulillah, Shalat Idul Adha di Masjidil Haram

USAI melaksanakan shalat subuh, jamaah langsung bergeser ke Makkah yang berjarak 5 Km. Namun karena tenaga sudah terkuras, sebagian besar jamaah berharap bisa menggunakan taksi atau bus, namun kenyataanya tidak mudah pasalnya semua taksi menerapkan tarif yang mencekik leher. Mereka bukan menetapkan tariff sesukanya, tak heran jamaah yang sudah masuk kembali keluar karena tarifnya yang benar-benar “merobek” kantong.

               Karena tarif yang mahal, akhirnya sebagian besar jamaah jalan kaki ke Masjidil Haram kecuali yang sudah tak habis tenaganya, mau tak mau. Selain tenaga yang sudah mendera, lapar dan ngantuk ikut mendera.

jamaah sedang menawar taksi untuk ke Masjdil Haram yang berjarak 5 Km dari Jamaraat Aqabah.

                Alhamdulillah, dengan berserah diri kepada Allah SWT perjalanan ke Masjidil Haram dilakukan dengan harapan bisa mengikuti shalat Idul Adha. Dalam keadaan lapar yang amat sangat, tiba-tiba ada pedagang kaki lima yang menjual teh susu plus sepotong roti seharga 5 Riyal Saudi.

               Masuknya teh dan roti ke dalam perut, seperti mendapat energi tambahan selain itu cita-cita untuk bisa shalat Id Adha di Masjidil Haram, memompa semangat untuk mempercepat langkah menuju Masjidil Haram. Alhamdulillah, lima menit menjelang waktu shalat, saya sudah tiba di Masjidil Haram bersama jamaah lainnya.

               Kelelahan yang mendera tiba-tiba sirna kita air zam-zam yang berada di Masjidil Haram membasahi tenggerokan saya dan jamaah lainnya. Meski kami tak saling mengenal, kami yang datang dari berbagai negara ini sempat berpelukan sebagai tanda perpisahan usai menikmati air zam-zam. “Alhamdulillah, Allahuakbar,” hanya inilah ucapan yang keluar dari mulut kami.

               Tentu saja, apa yang kami ucapkan sebagai rasa syukur ini karena nikmat yang diberikan Allah SWT memang luar biasa, ini tiada lain sejak meninggalkan Arafah, masuk Musdalifah, melempar Jamaraat Aqabah yang aman dan lengang tidak seperti dibayangkan sebelumnya, hingga bisa mengikuti shalat Idul Adha di Masjidil Haram.

               Peristiwa yang terjadi pada 10 Dzulhijah 1439 H tak akan dilupakan, karena hanya terjadi sekali dalam hidup saya. Terlebih-lebih melaksanakan ibadah haji bagi warga negara Indonesia saat ini hanya  sekali saja, kalaupun bisa harus menunggu lebih 30 tahun lagi karena untuk bisa mendaftar 10 tahun lagi ditambah waktu tiunggu sekitar 20 tahun. Karenanya saya benar-benar bersyukur, saat gema takbir berkumandang di Masjidil Haram sebelum khatib naik mimbar,tak terasa air mata mengalir, demikian dengan jamaah yang ada di sekitar saya. Khotbah yang disampaikan dalam bahasa Arab, kami ikut dengan khidmat meski tak mengerti artinya kecuali mendengarkan lewat siaran radio yang sudah diterjemahkan.

Bagi saya, bisa shalat Idul Adha di Masjdil Haram merupakan kebahagian tersendiri karena cita-cita itu bisa terwujud,meski harus kelelehan namun nikmatnya luar biasa.(bersambung/syafranuddin)

Artikulli paraprakMau ke Sangatta, Terjebak Banjir Samarinda
Artikulli tjetërKoper Haji Tidak Boleh Dipasang Jaring, Wajib Diberitanda Sesuai Ketentuan Kemenag