Beranda ekonomi Catatan Perjalanan Haji (52)

Catatan Perjalanan Haji (52)

611
0
Bupati Ismunandar saat memasang slayer kepada salah satu jamaah haji tahun 2018 lalu.

Slayer Tanda Pengenal Rombongan, Berarti Dikawasan Padat Serta Tersesat

SLAYER salah satu benda yang tak boleh ditinggal jika berpergian jauh dari pemondokan, terlebih bagi jamaah yang belum mengenal seluk beluk Makkah, Arafah dan Mina termasuk Madinah. Pemakaian slayer tiada lain pengganti pengenal jamaah yang biasanya bentuknya aneka ragam serta ditempatkan di kepala atau atas jilbab, sehingga kurang enak dipandang.

                Dengan slayer yang tertera nama daerah, tentu membantu jamaah untuk mencari teman jika tersesat atau bingun mau ke masjid atau sebaliknya kembali ke pemondokan. Umumnya slayer pakai jamaah di luar waktu shalat, itupun pemaikainnya beragam ada yang seperti kacu Pramuka namun ada juga yang sekedar diikat di tas kecil atau tas serutnya, namun kesemuanya sebagai tanda.

Terowongan yang dilewati jamaah haji Indonesia untuk melontar jumrah karenanya diperlukan tanda berupa bendera atau slayer sehingga membantu jamaah yang tertinggal dari rombongan.

                Sedangkan pemakaian slayer wajib pada saat pemberangkatan dan pemulangan jamaah haji, terlebih-lebih di embarkasi karena akan membantu proses penempatan jamaah. Slayer juga kerap menjadi bendera tanda rombongan pada saat melempar jumrah di Mina, terutama pada hari pertama yakni untuk melempar Jumrah Aqobah.

                Dalam kondisi lelah yang mendera, konsentrasi jamaah terbelah untuk segera melempar jumrah ditambah banyaknya jamaah serta cuaca yang panasnya luar biasa menyengat. Dengan slayer dipasang lebih tinggi, jamaah yang tertinggal karena kelelahan akan melihat sehingga tetap bisa mengikuti rombongan di depannya.

                Sekedar diketahui, jarak antara pemondokan jamaah haji Indonesia di Mina ke arena pelontaran jumrah sekitar 1,2 Km sementara kembalinya bertambah karena memutar. Namun untuk jalur pulang, jalur yang ada dibuat menurun sehingga jamaah tidak kelelahan beda dengan saat pergi terasa naik.

                Meski demikian, pada hari-hari pertama melempar Jumrah banyak juga jamaah yang tersesat karena tertinggal rombongan, terutama jamaah usia lanjut, sakit serta tak kuat berjalan jauh. Dengan kondisi demikian, sebaiknya waktu melontar dipertimbangkan matang-matang terutama menghindari cuaca panas serta kepadatan di jumrah aqobah. Jika memang tak sanggup, bisa minta pertolongan jamaah yang mampu  atau membayar joki karena kepastian masih diragukan sedangkan sesama  jamaah tentu sebagai bentuk bantuan dengan harapan mendapat  pahala. Yang penting jangan lupa nama dicatat betul-betul agar tidak keliru.(Syafranuddin/bersambung)

Artikulli paraprakPerbaiki Baling-Baling Kapal, Ulla Diterkam Buaya Bengalon
Artikulli tjetërKementan Janji Bayar Utang Sapi, Tahun Ini Dibantu 180 Ekor