Beranda kutim Korban Gempa Bumi Palu : Melahirkan Ceasar di Balikpapan, Kini Tinggal di...

Korban Gempa Bumi Palu : Melahirkan Ceasar di Balikpapan, Kini Tinggal di Sangatta

1483
0
Mariana (32) bersama anak-anaknya diantaranya Naura Octavia Unami yang lahir 4 Oktober lalu di Balikpapan.

SANGATTA (12/10-2018)
Gempa bumi dan tsunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala Sulteng, tak akan dilupakan Mariana (32) seumur hidup. Pasalnya, akibat bencana alam itu ia harus berpisah dengan suaminya yang hingga kini masih belum ditemukan.
Warga Desa Boya Balise ini, kepada Suara Kutim.com, Jumat (12/10) menerangkan, saat gempa mengocang bumi Sulteng ia bersama ketiga anaknya sedang dirumah sementara suaminya, berada di Petubo – kawasan yang tenggelam akibat gempa bumi yang terjadi Jumat (28/9) lalu.
Dalam keadaan hamil tua, istri Sahmil (53) yang kesehariannya ibu rumah tangga ini, bersyukur bisa menyelamatkan diri bersama 3 anaknya yakni Rafli (13), Aldi (16) dan Andi Muhammad Akil (3). “Sampai sekarang, belum ada kabar kemana bapak anak-anak,” kata Mariana ketika ditemui Suara Kutim.com dikediaman Rita – kerabatnya di Sangatta.
Karena kondisi hamilnya yang mendekati hari kelahiran, sementara RS di Palu dalam keadaan rusak. Mariana atas saran Rita – warga Gang Ternak Jalan Yos Sudarso II Sanggata Utara akhirnya dengan menumpang pesawat Hercules milik TNI-AU, Kamis (4/10) terbang ke Balikpapan.
Setiba di Balikpapan, ia langsung dibawa ke RS Pertamina untuk bersalin dengan cara ceasar. Operasi yang berlangsung singkat membuat Mariana dan anak-anaknya bisa melupakan kedukaan mereka, pasalnya anaknya lahir perempuan. “Ini yang kami pinta kepada Allah, sayangya saat ia lahir ayahnya tidak ada,” kata Mariana seraya menyeka air matanya.
Bayi perempuan yang semula direncanakannya lahir di Palu ini, ia berinama Naura Oktavia Unami yang punya arti penting yakni lahir di bulan Oktober dan korban tsunami. Mariana bersyukur, selama ini ia didampingi Lastri (52) kerabatnya di Boya Balise dan punya kerabat di Sangatta.
Marian tiba di Sangatta, Senin (8/10) setelah menjalani perawatan di RS Pertamina. Ia mengaku keberangkatannya ke Sangatta menggunakan travel yang biayanya bantuan dokter dan perawat di RS Pertamina. “Kami nggak punya apa-apa lagi, karena saya harus melahirkan ceasar mau tidak mau ke Balikpapan sedangkan RS di Palu nggak memungkinkan karena keterbatasan alat pasca gempa,” bebernya.
Selama berada di Sangatta, Mariana bersama anak-anaknya serta Lastri, mendapat bantuan PMI Kutim. Sedangkan, kamar kos yang menjadi tempat keluarganya berteduh ditanggung Rita. “Jika memungkinkan dan sudah sehat, kami akan kembali ke Palu karena kasihan sama anak-anak yang mau sekolah,” kata Marina seraya memeluk Naura yang tampak tidur nyenyak.(SK12)

Artikulli paraprakTruk Terbesar di Dunia, Menjadi Monumen Tambang di Folder Ilham Maulana
Artikulli tjetërDi Usia 19 Tahun, Aliansi Mahasiswa Kutim Tuntut Pemkab Lakukan Pembenahan