Beranda hukum Kutim Diminta Kreatif Tingkatkan Pendapatan, Indonesia Masih Defisit

Kutim Diminta Kreatif Tingkatkan Pendapatan, Indonesia Masih Defisit

976
0
Suasana workshop DHB yang digelar Pemkab Kutim di Hotel Redtop Jakarta.

JAKARTA (27/1-2018)
Kementrian Keuangan tampaknya belum bisa menjamin Kutai Timur mendapat Dana Bagi Hasil (DBH) lebih besar, pasalnya dalam 2 tahun terakhir Kementrian Keuangan mengambil kebijakan untuk penerimaan yang kredibel serta mengefektifkan penggunaan sehingga tidak besar pasak besar pada tiang. “Karena Indonesia masih defisit anggaran maka Menteri Keuangan mengambil kebijakan untuk memperkuat pendapatan negara dan mengefektifkan anggaran belanja negara,” kata Abi Masa mewakili Dirjen Keuangan dalam workshop DBH yang digelar Pemkab Kutim di Hotel Redtop Jakarta, Sabtu (27/1).
Workshop yang dibuka Bupati Kutim Ismunandar, dihadiri Wabup Kasmidi Bulang, Anggota DPRD Uce Prasetyo, sejumlah Camat dan Kepala Desa di Kutim ini, bertujuan agar pengelolaan keuangan daerah lebih rensponsif sekaligus menciptakan transparansi dan akuntabilitas keuangan Kutim.
Abi Masa memyebutkan penerimaan DBH terbesar Kutai Timur dari Minerba dan migas, karenanya perlu bagi pemda untuk melakukan pengelolaan dan pengawasan yang maksimum. Sata ini Bu Menteri Keuangan, sedang melalukan pengefektifan anggaran sehingga beberapa dana anggaran belanja dipangkas,” tandasnya.
Diungkapkan, Indonesia defisit anggaran sehingga untuk memperkut pendapatan negara dan mengefektifkan anggaran belanja Negara dilakukan penghematan berupa pemangkasan. Meski demikian, diungkapkan Anggaran Dana Desa (ADD) Tahun 2018 segera disalurkan mulai tanggal 29 Januari 2018.
“Anggaran untuk Kutai Timur mengalami pemangkasan sekitar 0,6%. Dalam APBN, DBH Kutai Timur yang awalnya akan dialokaskan sebesar Rp1.133.440.995.000 memgalami perubahan atas proposal realisasi yang ditetapkan melalui PMK No.187/PMK-07/2017 sehingga hanya dicairkan sebesar Rp. 127.143.083.000,” jelas Abi Masa.
Kepada daerah, termasuk Kutim, disarankan mencari komoditi baru yang bisa menunjang keuangan daerah karena di benerapa negara maju tidak lagi mengalami ketertarikan kepada migas ini disebabkan karena unvaforibel energi.
Kedepan energy fosil seperti minyak dan batubar, ungkap Abi, bisa habis dan tidak bisa diproduksi kembali, selain itu tidak adanya kepastian harga karna selalu fluktuatif, polusi, dan tidak ramah lingkugan, serta membutuhkan biaya eksprorasi yang tinggi.(SK5)

Artikulli paraprakPemkab Kutim Gelar Workshop DBH di Jakarta
Artikulli tjetërUtang Pemkab Kutim Rp450 M, Janji Dilunasi Tahun 2018