Beranda kutim Orang Merasa Sudah Tahu Semuanya – Literasi di Mata Perempuan (1)

Orang Merasa Sudah Tahu Semuanya – Literasi di Mata Perempuan (1)

460
0

SUARAKUTIM. COM, JAMBI – Literasi amatlah mudah disebutkan dalam ungkapan kata yang keluar dari mulut, namun ia tidak mudah jika tidak didasarkan pada sendi dasar berupa kemampuan membaca dan menulis. Idealnya literasi dapat merangsang minat baca, minat belajar, hingga mendorong orang untuk mencipta suatu karya.

Dalam catatan UNESCO pada 2019, Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara di dunia perihal minat baca. Adapun dari catatan Program for International Students Assessment (PISA) pada 2019, Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara di dunia terkait perihal yang sama. Adapun data UNESCO 2021 terkait minat baca, negara kita berada pada peringkat 75 dari 85 negara.

Meiliana K. Tansri mengungkapkan bahasa tulis merupakan penemuan penting sepanjang peradaban. Sejak awal dimulainya, literasi memiliki peranan penting dalam masyarakat. Orang bisa membaca, menulis, mengolah, menyimpan, dan menyebarkan informasi secara lebih efektif dibandingkan jika hanya secara lisan

Penulis novel Mempelai Naga, itu lebih jauh mengatakan selama berabad-abad kegiatan literasi mengubah laju dunia dengan eksponensial. Kita bisa tahu mengenai kejadian-kejadian di masa lalu, melalui catatan-catatan yang ditinggal para pendahulu. Mewarisi ilmu pengetahuan berusia ribuan tahun, berkat tradisi turun-temurun yang telah mengasuh ribuan generasi cendekiawan.

Meiliana menyebutkan hal itu dapat dilihat dari catatan Euclids Element of Geometry, yang sampai sekarang dipergunakan untuk mengajar matematika. Lalu ada catatan dan buku-buku Isaac Newton yang sampai sekarang dipergunakan untuk mengajar sains.

“Sampai sekarang untuk tiap pencapaian manusia, tercatat melalui infrastruktur literasi dalam berbagai media yang teratur menyeluruh dan canggih. Yang kelak kita wariskan untuk generasi penerus. Hingga saat ini setelah lebih dari 5.000 tahun tentang bukti awal penemuan tulisan, teknologi dapat dikata mendukung literasi di seluruh dunia,” ungkapnya.

Mulai dari lempengan tanah liat yang digurat dengan paku, seperti tablet Cuneiform dari Sumeria Kuno yang dibuat sekitar 3.400 SM. Lembar perkamen yang ditulis dengan pena berupa bulu, lantas ada gulungan naskah kertas, buku-buku berupa salinan tangan, sampai dengan buku-buku yang dicetak mesin hasil temuan Johannes Gutenberg pada abad ke-15.

“Akhirnya sekarang kita bisa menikmati karya tulis tanpa kertas, melalui media virtual dalam jaringan. Teknologi telah membukakan pintu selebar-lebarnya ke dalam dunia informasi. Yang kita bisa peroleh hanya dengan sentuhan jari dan biaya yang relatif murah. Peran teknologi ialah menyediakan infrastruktur, perbanyakan, hingga distribusi,” jelasnya.

Literasi ideal hasilnya tentu menghasilkan banyak orang-orang cerdas atau cendekiawan, termasuk memberikan solusi terkait masalah-masalah dunia pada saat ini. Mulai dari menjawab krisis pangan, krisis air bersih, obat, energi murah dan ramah lingkungan, serta perubahan iklim.

“Namun sayangnya dari realita informasi instan ini, kita temukan bahwa ketersediaan informasi membuat orang merasa tidak perlu memiliki informasi yang lengkap. Cukup ketik kata kunci, sudah keluar dari Google mengenai semua kutipan dari berbagai sumber. Kutipan dari berbagai buku-buku dan jurnal ilmiah, tanpa menghabiskan biaya besar atau bahkan pergi ke perpustakaan untuk membaca buku satu per satu,” jelasnya.

Sehingga realita informasi instan menyebabkan orang malas membaca, tidak mau membeli buku, dangkal cara berpikirnya, dan kecenderungan besar mudah termakan dan menyebarkan hoax.

“Dengan satu atau dua baris kutipan, orang merasa kita sudah tahu semuanya. Akibat yang dihasilkan dari kemudahan akses itu, tidak lebih dari sekedar gerombolan pengutip, pembaca status media sosial, dan penyebar hoaks. Yang sama sekali tidak punya cita rasa estetis diluar kemahiran pamer foto apalagi intelegensi dan wawasan ilmiah,” jelasnya dalam kegiatan Literasi di Mata Perempuan, yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Jambi pada Rabu (18/8/2021) beberapa waktu lalu.

Masalah literasi di Indonesia yang pertama adalah karena literasi sekedar membaca, tidak menalar. Kedua, belajar membaca tetapi tidak membaca untuk belajar. Ketiga aktif membaca, tetapi tidak membaca aktif. Keempat, lupa menghubungkan kemampuan menulis dengan kemampuan membaca. Dan terakhir ialah tidak paham bahwa membaca bukan hobi bawaan lahir, melainkan harus diajarkan.

“Dari situ kelihatan minat baca di Indonesia sangat rendah. Artinya kita membaca saja malas, apalagi literasi yaitu menalar, memproses informasi, mengembangkan kompetensi berpikir. Lemahnya literasi ini mendatangkan kesulitan besar, ketika dalam masa pandemi kita harus merumahkan anak-anak (belajar secara daring, red). Kesulitan konsentrasi untuk waktu yang lama, yang sebetulnya bisa diatasi kalau kita sudah terbiasa membaca,” jelasnya.

Inti permasalahan literasi di Indonesia adalah lemahnya pengajaran dasar membaca dan menulis. Untuk itu diperlukan peranan guru dalam mengembalikan kegiatan dasar literasi ke dalam proses belajar-mengajar. Orang tua yang menanamkan dasar kebiasaan membaca dan menulis, serta menumbuhkembangkannya. Praktisi literasi mulai dari penulis, penerbit, dan pemerintah yang memastikan ketersediaan bahan bacaan bermutu dan menarik. Dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi yang ada. Sehingga terjadi perbaikan mutu literasi nasional dan sumber daya manusia Indonesia.

Apalagi sekarang pada masa pandemi COVID-19, pembelajaran dilakukan tanpa tatap muka, yang menurunkan daya serap informasi. Sehingga pelajaran tidak terserap dengan baik dan tak dimengerti, orang tua akhirnya harus turun tangan menjawab perihal yang terjadi. Pembaca dapat membayangkan kesulitan ibu dan anak pada masa sekarang. Tetapi pembaca yang baik hati juga bisa memikirkan, betapa pentingnya arti literasi. (Nal)