Beranda ekonomi Rakor Forum KEE LBMS, Eksistensi Penguatan dan Pengamanan Ekosistem serta Habitat Endemik...

Rakor Forum KEE LBMS, Eksistensi Penguatan dan Pengamanan Ekosistem serta Habitat Endemik Kalimantan di Kecamatan Long Mesangat dan Muara Ancalong

565
0
Rakor. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman memimpin rapat koordinasi (Rakor) Forum Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Mesangat dan Suwi Kabupaten Kutai Timur secara off line maupun virtual, Selasa (28/9/2021)

SUARAKUTIM.COM; SANGATTA — Upaya menjaga keberadaan dan keberlangsungan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Lahan Basah Mesangat dan Suwi (LBMS) yang terletak antara Kecamatan Long Mesangat dan Kecamatan Muara Ancalong Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terus menjadi konsentrasi pemerintah Kutim. Forum Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Mesangat – Suwi (KEE LBMS), Selasa (28/9/2021) menggelar rapat koordinasi (Rakor) secara off line sekaligus virtual yang melibatkan instansi terkait dan lembaga teknis mulai dari tingkat kabupaten, provinsi hingga pusat, membahas terkait tindak lanjut dalam pengamanan keberadaan KEE LBMS dan pengelolaanya.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman yang memimpin langsung rakor KEE LBMS ini, menyebutkan jika Kabupaten Kutai Timur memang terkenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tersebar pada sejumlah tipe ekosistem yang berada di beberapa kecamatan di Kutim.

“Kekayaan keanekaragaman hayati selama ini secara turun menurun sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber bahan makanan dan obat-obatan, serta memang harus dijaga kelestarian dan keberadaannya. Sebab kekayaan keanekaragaman hayati ini merupakan potensi daerah”, sebut Ardiansyah.

Terkait KEE LBMS, orang nomor satu di Kutim ini mengatakan bahwa masih banyak masyarakat, swasta bahkan pemerintah yang belum mengetahui dan memahami bahwa keberadaan dan fungsi lahan basah sangatlah penting dalam mengatur siklus air, sumber ikan tawar yang tentunya menjadi sumber pendapatan bagi nelayan dan keberagaman hayati lainnya yang berpotensi untuk wisata alam serta penelitian.

“Melalui Rakor (Rapat Koordinasi, red) ini, saya berharap semua pihak memahami dan mengetahui akan pentingnya fungsi ekologi dan sosial ekonomi lahan basah di Kecamatan Muara Ancalong tersebut. Serta ke depan akan terakomodirnya dalam kebijakan dan program-program pemerintah daerah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Terlebih salah satu visi dan misi pemerintah Kutim saat ini adalah sinergitas pembangunan wilayah dan intergrasi pembangunan yang berwawasan lingkungan”, jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Lahan Basah Mesangat dan Suwi (LBMS) adalah bentang lahan basah yang terdiri dari danau-danau, sistem sungai dan daerah limpasan banjir Sungai Kelinjau dan Sungai Telen yang kemudian menyatu menjadi Sungai Kedang Kepala. Kedua lahan basah yang terletak di wilayah Kecamatan Muara Ancalong dan Kecamatan Long Mesangat, Kabupaten Kutai Timur tersebut memiliki fungsi penting, diantaranya merupakan sumber perikanan dan mata pencaharian bagi nelayan, habitat bagi banyak jenis hidupan liar termasuk satwa dilindungi dan terancam punah, serta merupakan daerah resapan air yang berada di Cekungan Air Tanah Sendawar sehingga penting untuk tata air dan perlindungan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Untuk melindungi fungsi penting dan pengelolaan yang berimbang bagi kepentingan lingkungan, dunia usaha dan masyarakat, maka LBMS diusulkan untuk dikelola sebagai kawasan Ekosistem Esensial. Bupati Kutai Timur menghimpun para pihak dan membentuk Forum Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Mesangat-Suwi (KEE LBMS) berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kutai Timur Nomor 031/5.766/2016 tanggal 10 Oktober 2016. Hal ini juga diperkuat oleh SK Gubernur Kalimantan Timur Nomor 522.5/K.672/2020 tentang Penetapan Peta Indikatif Ekosistem Esensial, KEE Lahan Basah Mesangat-Suwi sebagai salah satu KEE eksisting di Kalimantan Timur.(Redaksi)