Beranda hukum Ribuan Buaya Berdiam di Sungai Bengalon, Warga Kerap Diteror Penampakan Raja...

Ribuan Buaya Berdiam di Sungai Bengalon, Warga Kerap Diteror Penampakan Raja Buaya

0

Loading

SANGATTA,Suara Kutim.com (14/11)
Buaya Muara yang menghungi Sungai Bengalon dan Lembak Kecamatan Bengalon didugaan ribuan, namun yang kerap menampakan diri diperkirakan warga hanya ratusan ekor. Kepala Desa (Kades) Sepaso Timut Imam – menyebutkan beberapa tahun lalu pernah dilakukan penelitian dengan menggunakan alat deteksi ikan.
Kepada Suara Kutim.com belum lama ini, Imam menyebutkan penelitian populasi buaya di Sungai Bengalon dilakukan sekitar tahun 2000 lalu. “Hasilnya tentu mengkagetkan, terlebih-lebih dengan kerapnya warga melihat buaya dalam ukuran besar hilir mudik mengikuti arus sungai,” ujar Imam.
Pengakuan Imam ini dibenarkan Masitah (41) warga Sebongkok dimana Sugai Bengalon juga melintas didesanya. Ketika bertemu Suara Kutim.com disebuah warung makan di Sebongkok, ia menyebutkan sekitar rumahnya kerap terlihat buaya menampakan diri. “Kalau dilihat dari ukurannya lebih lebar dari meja makan ini,” kata Masitah seraya menujuk meja makan yang ternyata ketika diukur lebarnya 40 sentimeter.
Mantan karyawan pabrik kayu di Bengalon ini menyebutkan saat perusahaan tempatnya bekerja aktif, tidak pernah melihat buaya. Perkirananya, akibat aktifitas yang menggunakan mesin serta banyaknya bongkar muat kayu di sungai membuat buaya takut.
Keadaan itu, sebut wanita yang sudah 20 tahun tinggal di Bengalon ini sudah terbalik dimana buaya dengan badan lebar dan panjang antara 5 hingga 6 meter yang ia sebut raja buaya Sungai Bengalon, kerap sekali terlihat. Dugaan warga, ujar Masitah sang monster Sungai Bengalon yang sudah dipunggungnya sudah berlumut itu kerap berenang karena mencari makan terutama ketika air dan ikan busuk dibuang pedagang ikan. “Sejak perusahaan stop sehingga tidak ada aktifitas pabrik di Sungai, sementara ada pembuangan sisa ikan mati termasuk airnya membuat buaya kerap datang,” ungkapnya.
Pendapat Masitah ini dibenarkan warga Sembongkok lainnya seperti Supiatin (41) yang rumahnya berada di tepi Sungai Bengalon. Meski mengaku baru 5 tahun tinggal di Sebongkok, wanita asal Surabaya – Jatim ini sama sekali tidak pernah langsung ke sungai. “Anak dan suami saya enggan langsung mandi ke sungai, kami menggunakan pompa jika mati mengambil dengan ember karena hampir setiap hari buaya melintas,” aku Supiatin.(SK-02/SK-13)