Beranda hukum Satu Keluarga Warga Kutim Diduga Bergabung Gafatar di Kukar

Satu Keluarga Warga Kutim Diduga Bergabung Gafatar di Kukar

0
Kapolres Kutim AKBP Anang Triwidiandoko saat menerangkan soal Gafatar kepada wartawan, Kamis (21/1) siang tadi.

Loading

SANGATTA,Suara Kutim.com (21/1)
Meski di Kutai Timur (Kutim) belum ditemukan Gafatar, namun diduga terdapat satu keluarga sudah bergabung dengan Gafatar di Kutai Kartanegara (Kukar). Informasi yang masih didalami Polres Kutim ini didapat dari Polres Kutai Kartanegara. Kapolres Kutim AKBP Anang Triwidiandoko, Kamis (21/1) siang seusai menyampaikan paparan Bahaya Radikalisme dan Terorisme Terhadap Keutuhan NKRI, menyebutkan satu keluarga yang kikut bergabung dengan Gafatar di Kukar bukan asli warga Kutim namun cukup lama tinggal di Kutim sehingga sudah mempunyai KTP. “Informasi yang diterima merupakan informasi awal karenanya sedang didalami sehingga data detail belum ada,” terangnya.
Terhadap kebaradaan Gafatar di Kutim, diakui belum terdeksi namun kewaspadaan jajarannya tetap tinggi terlebih Kutim sebagai daerah yang terbuka dan mudah dimasuki semua orang. Disebutkannya, selama ini Gafatar diketahui ada di Berau, Samarinda dan Kukar artinya Kutim berada dalam posisi yang strategis dan memungkinkan menjadi tempat “pelarian” anggota Gafatar yang dibubarkan di Berau,Samarinda dan Kukar. “Jika ada yang terdaftar positf, kemudian tergusur dari daerah lain tentu bisa jadi akan kembali ke Sangatta atau sebelumnya secara pelan-pelan telah menyebarkan ajarannya,” ungkap kapolres.
Kepada masyarakat, ia berharap masyarakat berperan melakukan pemantaun dan berkoordinasi dengan aparat keamanan seperti Polsek maupun Koramil, jika ada sekelompok masyarakat yang melakukan aktifitas mencurigakan seperti terkesan eksklusif dan memisahkan diri dari masyarakat. Diharapkan, apara bdesa dan RT serta masyarakat kembali mengaktifkan Siskamling dan wajib lapor 1 x 24 jam kepada pendatang baru. “Saya sudah merintahkan kapolsek segera berkoordinasi dengan Camat dan Danramil untuk melakukan sosialisasi akan bahaya radikalisme dan terorisme kepada masyarakat, bahkan yang bermukim di pelosok-pelosok desa,” bebernya seraya mengakui banyak hal didapat jika Siskamling ditumbuhkan kembali.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman yang ditemui usai membuka sosialisasi Bahaya Radikalisme dan Terorisme, mengakui Gafatar belum ada di daerahnya namun perlu kewaspadaan dini agar Gafatar tidak bisa masuk dan berkembang di Kutai Timur. “Seluruh camat agar segera berkoordiansi dengan aparat terkait untuk melakukan pemantauan dan mensosialisasikan bahaya faham radikalisme dan terorisme kepada masyarakat sebagai langkah antisipasi,” tandasnya.(SK-03/SK-13)