Beranda hukum Sungai Tercemar Limbah Sampah, Warga Bakal Portal TPA Batota

Sungai Tercemar Limbah Sampah, Warga Bakal Portal TPA Batota

990
0

SANGATTA (20/9-2018)
Masalah sampah jika tidak segera dtangani Pemkab Kutim dan Kecamatan Sangatta Utara, bakal menjadi masalah besar dalam beberapa hari kedepan. Pasalnya sejumlah Warga RT 29 Desa Singa Gembara Batota Sangatta Utara, geram dengan masalah limbah sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batota.
Penyebabnya TPA yang dibuat sekitar 4 tahun lalu itu bukannya untuk pengelolaan sampah, tapi malah mencemari lingkungan, terutama sungai yang menjadi sumber air utama masyarakat tercemar. “Kami sudah ke Dinas Lingkungan hidup, Dinas PU, termasuk UPT Kebersihan. Saat itu, mereka janji akan melakukan perbaikan, namun hingga sekarang belum ada perbaikan. Karena itu, kami dalam waktu dekat akan memportal TP itu, kalau memang tidak ada perbaikan,” kata Ketua RT 29, Jumarang.
Jika tidak ada perbaikam, Jumarang menyebutkan ia bersama warganya akan memportal TPA Batota.
Ia menilai, TPA yang tergolong baru ini jauh lebih buruk dari TPA lama. Meskipun lokasinya bersebelahan, sehingga dampaknya juga beda. Lokasi lama, meskipun itu dijadikan TPA selama puluhan tahun, tak mencemari lingkungan. “TPA yang dibangun baru, beberapa tahun lalu, justru ditempatkan di dataran di lokasi pinggir sungai, sehingga air limbahnya justru mencemari sungai. Akibatnya, sungai yang awalnya jernih, bisa digunakan masyarakat, maka selama empat tahun ini, tidak bisa lagi digunakan karena hitam, dan bikin gatal-gatal kalau mandi,” bebernya.
Diakui, pembatan ada tiga buah kolam penampungan air limbah. Janjinya, ungkap Jumarang, air dari kolam ke tiga, layak minum. Faknya setelah semua penuh, sungai malah tercemar, karena limbah tidak diolah. “Kalau dalam waktu dekat tidak juga diperbaiki, kami akan portal,” ungkapnya berulang kali.
Menurutnya, saat mereka akan melakukan penutupan lokasi beberapa waktu lalu, PU dan Dinas Lingkungan Hidup minta waktu untuk melakukan perbaikan. Alasanya, masih dalam perencanaan, anggaran belum turun, karena itu minta waktu melakukan perbaikan, namun hingga kini tak ada perbaikan.
“Yang menjadi maslaah bagi warga kami, yakni masalah air minum. Di sini, harga air satu tendon Rp150 ribu. Mana kami kuat beli, sementara kami ini hanya pekebun. Pernah kami dibantu air, tapi hanya sekali tiap tiga bulan. Karena itu, dalam waktu dekat ini, kami akan mengadu ke bupati,” kata Jumarang.(SK2)

Artikulli paraprakHanya Fraksi Golkar Tidak Memberikan Pendapat Terhadap RAPBD Perubahan
Artikulli tjetërKasmidi Harapkan Frekuensi Terbang Perintis Bertambah