Beranda hukum TKB Dituding Tidak Jujur dan Transparan

TKB Dituding Tidak Jujur dan Transparan

1577
0
Meski diawasi cukup ketat serta melibatkan berbagai pihak, baik langsung maupun tidak. Ada saja, peserta yang pesimis dengan panitia

SANGATTA,Suara Kutim.com
Tes Kemampuan Bidang (TKB) CPNS Kutim 2014 ditangapi beragam dari peserta yang berjumlah 1.060 orang. Selain ada yang mengharapkan benar-benar transparan dan bersih dari praktek jual beli kelulusan, namun ada juga yang mengaku pesimis dengan TKB yang mendapat pengawasan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak.
Ekstiar (26) asal Bengalon dan dan Aries (27) asal Sangatta, mengaku pesimis dan kecewa dengan soal TKB yang dibuat konsorsium sejumlah PT ternama di Indonesia diantaranya Unmul Samarinda. Menurut Ekstiar, soal yang diberikan ternyata tidak jauh beda dengan soal yang diterimanya pada saat Tes Kemampuan Dasar (TKD) namun yang membedakan saat pelaksanaan dimana pada TKD dikerjakan komputerisasi (CAT) dan TKB dilakukan secara manual.
Selain itu, soal yang diujikan tidak spesifikasi membahas formasi yang ada terutama untuk jabatan yang ia pilih yakni psikologi. “Saya pesimis, apalagi ada rumor yang mengatakan bahwa tes seleksi CPNS Kutim kali ini lebih diutamakan kelulusannya bagi peserta yang sebelumnya telah mengabdi di Pemkab Kutim sebagai honorer Tenaga Kerja Kontrak Daerah (TK2D) sedangkan dirinya berlatar belakang sebagai pekerja tambang,” ungkap Ekstiar.
Pendapat serupa dilontarkan Aries, pekerja di salah satu tempat hiburan malam yakni araoke keluarga di Sangatta. Kepada Suara Kutim.com, ia mengaku hanya mengadu nasib ikut tes CPNS Kutim. Aires, mengaku pesimis dengan hasil tes seleksi CPNS Kutim tahun penyebabnya selain formasi yang disediakan hanya 146 formasi dan yang mengikuti sebanyak 1.060 peserta. “ Bagaimana berjalan jujur dan transparan, karenanya saya pesimis sekali bisa berhasil karena kondisi seleksi demikian adanya,” sebut pria yang mengaku tinggal di Sangatta.(SK-02/SK-03)

Artikulli paraprak1.060 Ikuti Seleksi TKB CPNS
Artikulli tjetërJoni : Penentuan Kelulusan Bukan Daerah Tapi Panselnas