Beranda foto Uce Minta Satpol Aktif Menertibkan Penyakit Masyarakat

Uce Minta Satpol Aktif Menertibkan Penyakit Masyarakat

1676
0
Kawasan Patung Burung Enggang di Sangatta Selatan yang juga kerap menjadi mangkalnya kupu-kupu malam

SANGATTA,Suara Kutim.com (18/2)
Dampak penutupan kompleks pelacuran Kampung Kajang (K2) di Singa Geweh Sangatta Selatan sudah melebar kemana-mana, termasuk beroperasi di pinggir jalan. Fenomena yang menjurus ke bebasan seks itu menjadi perhatian Ketua dan Sekretaris Komisi D DPRD Kutim.

Camat Sangatta Selatan Isnaini Trikorawati
Camat Sangatta Selatan Isnaini Trikorawati
Saat berlangsung rapat dengan warga RT 4 Singa Geweh serta Pemkab Kutim, Rabu (18/2), Uce Prasetyo dan Agusriansyah minta pemkab bertindak segera untuk menertibkan “warga” yang menjadi kupu-kupu malam dengan menjajakan cinta baik di jalan – jalan maupun di penginapan atau hotel. “Informasi yang kami terima selama ini banyak yang beroperasi di jalan, mereka tinggal di rumah – rumah masyarakat namun malam beroperasi. Kepada Satpol PP diminta untuk terus menerus menegakan aturan dan menjaga ketertiban masyarakat, jika ada tempat-tempat yang menjediakan wnaita penjaja cinta agar ditindak tegas,” pinta Uce.
Namun keduanya betambah kaget, ketika Camat Sangatta Selatan Isnaini Trikorawati melaporkan ia mengendus adanya lokalisasi protitusi baru tepatnya di KM 6 dan 7. “Informasi ini diterima Kasi Trantib dan Kasi Pembangunan dan Kesos karenanya kami minta mereka langsung mengecek kebenarannya,” kata Camat Isnaini.
Walaupun baru sekedar info, Isnaini yakin memang ada lokalisasi baru yang baru berdiri dan menampung pelarian penghuni PSK Kampung Kajang yang ditutup pemerintah pada Desember tahun lalu.
Diungkapkan Isnaini, menjamurnya THM dan lokalisasi baru pasca penutupan K2 akibat proses penutupan lokalisasi tertua di Kutim yang tidak menggunakan perencanaan yang matang. “Seharusnya pemerintah kabupaten bukan hanya memikirkan bagaimana lokalisasi K2 tersebut di tutup namun memikirkan dampak yang ditimbulkannya mulai dari dari PSK sendiri,mucikari dan warga sekitar lokalisasi yang kini mengaku kehilangan penghasilan dan merosotnya perekonomian akibat penutupan,” ungkap Isnaini seraya berharap permasalahan asusila ini bukan semata-mata dibebankan kepada dinas sosial namun harus melibatkan seluruh elemen masyarakat agar penyakit sosial masyarakat bisa hilang di Kutim.(SK-02/SK-03/SK-011)

Artikulli paraprakPemkab Akui Belum Rancang Nasib Warga Sekitar K2
Artikulli tjetërPengunjung THM Wajib Bayar Pajak Hiburan