Beranda kutim Warga Kecam Festival Nomoni Karena Hidupkan Ritual Balia

Warga Kecam Festival Nomoni Karena Hidupkan Ritual Balia

823
0
Kekesalan warga terhadap Festival Nomoni dicurahkan melalui sisa - sisa bangunan yang rusak.

BENCANA ALAM yang menimpa Palu dan Donggala Sulteng, diakui warga sebagai peringatan dari Allah SWT. Selain terjadi saat adzan magrib berkumandang, benca alam yang disebut sebagai Bencana Alam Paket Lengkap di dunia ini, benar-benar menghentikan semua aktifitas masyarakat yang sudah bersiap-siap menyambut pembukaan Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) tahun 2018 yang disebut-sebut termegah dan menghabiskan dana puluhan miliar rupiah.
Namun festival yang sempat ditentang sejumlah warga ini, konon kerap diselipi dengan kegiatan yang nilai bisa membawa kemusyirakan. Disebutkan sejumlah warga, sejak Pesta Nomoni digelar dua tahun lalu, selalu ada bencana alam seperti gempa bumi (2016) dan angin ribut (2017). “Festival Nomoni sejak digelar Pemkot Palu, tiga tahun lalu ada saja peristiwa yang terjadi dan tahun ini merupakan terparah,” cerita sopir yang membawa rombongan kami ketika bertandang ke Pantai Talise Palu.
Ketidak setujuan warga dengan pagelaran adat Nomoni, karena adanya ritual balia yang dihadirkan dalam festival tersebut. Warga menganggap salah satu adat Suku Kaili ini sebagai penyebab terjadinya Gempa Bumi. “Warga menilai ritual balia musyrik, karenanya sebagian ulama menentang digelar. Memang ritual balia itu sudah lama tidak ada, namun kembali dihidupkan dengan tujuan pelestarian budaya dan adat,” kata sopir yang merangkap pemandu rombongan.
Berdasarkan data, ritual balia yang digelar di Festival Nomoni tidak berbeda dengan belian yang ada di Kaltim. Upacara yang digelar siang malam ini, bertujuan mengobati orang sakit. Namun yang terjadi Palu, menjelang pembukaan Festival Nomoni selalu terjadi bencana alam.
Diakui, beberapa jam sebelum pembukaan digelar, warga Palu sudah merasakan bumi bergetar tanda terjadi gempa bumi da puncaknya menjelang magrib dimana persiapan panitia di Pantai Talise sudah matang, termasuk penataan sound sistem dan lampu hias yang akan menyemarakan festival di bibir Teluk Palu.
Akibat goyangan bumi dan diikuti gelombang tsunami, membuat Pantai Talise hancur berantakan, parahnya di Petobo dan Balaroa terjadi fenomena alam lainnya yakni likuifaksi dimana tanah seperti terbalik yang dalam perut bumi naik ke atas dan yang di atas masuk kedalam bumi.
Hantaman tsunami dan likuifaksi ini yang membuat ribuan warga Palu terjebak, tak bisa menyelamatakan diri. Hanya sedikit yang ditemukan selamat, sementara yang tewas ribuan demikian yang belum ditemukan.
Banyaknya nyawa melayang dan hancurnya harta benda warga, sejumlah warga meluapkan kejengkelannya dengan Festival Nomoni yang mereka anggap sebagai biang kerok terjadi bencana alam. Ungkapan kemarahan warga mereka tulis pada tembok di antara reruntuhan bangunan rumah warga dengan berbagai kalimat pedas dan tak enak disebutkan. “Banyak warga tidak suka dengan Festival Nomoni yang menghidupkan upacara adat yang berbau musyrik,” sebut sejumlah warga ketika dijumpai Suara Kutim.com saat sama-sama membeli martabak.(Syafranuddin)

Artikulli paraprakLambatnya Proyek Multi Years Karena Ketiadaan Anggaran
Artikulli tjetërPemkab Kutim Wajib Selamatkan Petani Sawit