Beranda ekonomi Dihuni Bekantan dan Didukung Pertamina EP Tarakan, Hutan Mangrove Tambah Menarik

Dihuni Bekantan dan Didukung Pertamina EP Tarakan, Hutan Mangrove Tambah Menarik

0

Loading

KOTA TARAKAN merupakan pulau terpisah dari Kalimantan, menjadi tantangan bagi pemerintah maupun masyarakatnya. Karena di kota ladang minyak imi tak ada lokasi objek wisata, kecuali hutan mangrove. Karenanya, Pemkot Tarakan menjadikan hutan mangrove ini menjadi objek wisata yang penuh makna serta fungsi yakni pendidikam, hiburan sekaligus sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dengan posisinya yang ada di jantung kota, hutan mangrove Tarakann ini mudah dijangkau masyarakat. Kerindangan hutannya, membuat pengunjung senang dan nyaman. Pemerintah Kota Tarakan menjadikan hutan mangrove seluas 22 hektare, menjadi taman rekreasi.
Secara ekonomi, hutan mangrove ini bisa saja dilego kepada investor dengan harga selagit namun Pemkot, tetap menjadikan hutan mangrove sebagai hutan konservasi, untuk penelitian biota laut, sekaligus hutan wisata yang bisa memberikan PAD Pemkot Tarakan.
Yang membuat hutan mangrove Tarakan menarik tiada lain kehadiran puluhan Bekantan (Nasalis larvatus) yang mempunyai hidung mancung. Obyek wisata yang digarap sejak tahun 2001 ini, dijelaskan Samsul – petugas jaga Hutan Mangrove Tarakan, terus menjadi kunjungan wisatawan semenjak monyet Belanda ada.
Saat menerima kunjungan wartawan peserta Edukasi Wartawan Bersama Pertamina PEP di Tarakan, Syamsul bercerita hutan mangrove Tarakan yang dikelola Dinas Priwisata merupakan kawasan pengembangbiakan Bekantan. Pada tahun 2003, terdapat 6 ekor dan pada tahun 2017 sudah mencapai 40 ekor.” Dulu hanya satu kerajaan, kini bahkan sudah pecah jadi 3 keranaan begantan,” jelasnya.
Wisatawan yang akan menikmati hutan Mangrove serta menyaksikan si hidung mancung bercengkrama, tidak perlu merogoh kocek dalam- dalam pasalnya Pemkot Tarakan hanya menetapkan tarif Rp2 Ribu untuk anak-anak dan Rp3 Ribu pengunjung dewasa serta warga negara asing Rp5 ribu.
Menurut Syamsul, setiap hari libur, menjadi lokasi yang dipadati masyarakat yang datang bersama dengan keluarga. “Disini disiapkan pos jaga, perpustakaan, dan berbagai tempat istirahat. Selain itu, di sini masyarakat juga bisa mengamati kelakuan Begantan, yang sudah bisa dikatakan jinak. Jadi benar-benar jadi lokasi hiburan,” beber Syamsul seraya menambahkan sebagian fasilitas di hutan mangrove bantuan CSR Pertamina EP Tarakan.
Amir (35) warga Tarakan, mengakui hutan mangrove banyak fungsi banya yakni selain menjadi lokasi hiburan, juga jadi lokasi penelitian karena lokasi ini dihuni berbagai macam binatang laut, tumbuhan laut. “Jadi selain pemerintah, masyarakat juga turut jaga. Tapi, namanya juga manusia, ada saja yang bandel, mengambil pagar hutan untuk digunakan untuk kepentingan lain,” ungkap Amir yang mengaku hampir setiap bulan bertandang.(SK2)

Artikulli paraprakJangan Jalan Tanpa Alas Kaki di Tanah Suci,Kaki Bisa Melepuh
Artikulli tjetërMinta Masyarakat Mendukung, Sangsel Siap Dibangun Pemkab Kutim