Beranda ekonomi Diterpa Kemarau, Harga TBS Anjok Tajam

Diterpa Kemarau, Harga TBS Anjok Tajam

0

Loading

SANGATTA,Suara Kutim.com (14/5)
Kemarau yang melanda Kutim dalam setahun terakhir berdampak kepada petrani kelapa sawit, kondisi ini diperparah harga Crude Plam Oil (CPO) secara global turun sehingga pendapatan petani sawit antara 35-50 persen.
Leo (50), warga Muara Wahau, mengakui akibat kemarau dan turunnya harga sawit bedampak besar bagi petani. Ia menyebutkan sebelumnya harga sawit Rp120o per kg tandan buah segar namun selama harga turun tengkulak hanya membeli dengan harga Rp800 / kg TBS.
Leo mengakui saat ini harga TBS kembali bagus yakni di atas Rp1000 karena buah sawit masih kurang akibat kemarau. “Diiharga normal petani bisa mendapat Rp3 juta per hektar namun saat ini pandapatan petani turun drastic sekitar Rp2 juta perhektar untuk sekali panen,” aku Leo sera menyebutkan masih pendapatan kotor.
Disebutkan, sawit dengan umur 10 tahun di atas, pupuk yang digunakan sekitar 3 kg pohon degan sistem pemupukan 3 bulan sekali. Ia menandaskan, dari pendapatan kotor yang ada pendapatn bersih sekitar Rp1 juta lenih.
Lebih jauh ia menambahkan, pupuk juga menjadi masalah pasalnya jika tidak dipupuk akan berdampak dengan penghasilan termasuk dengan kondisi kemarau. Petani sawit di Wahau, ujar Leo berharap hujan sehingga air cukup. “Dalam kondisi kebun sawit sudah panen, ada tawaran agar bermitra dengan perusahan dengan membentuk koperasi sehingga perusahan yang kerjakan, dan tanggung semua biaya pupuk. Namun dari hitungan dan fakta petani yang bermitra dengan perusahaan hasilnya lebih baik kerjakan sendiri. Sebab, jika dimitrakan, hasilnya maksimal Rp1 juta per hektare, sedangkan jika dikerjakan sendiri pada kondisi musim bagus, harga bagus maka petani sejatinya masih bisa dapat Rp2-3 juta. Memang enak kalau bermitra dengan perusahan tidak kerja lagi, dapat uang tapi kecil. Tapi kalau kerja sendiri, memang capek, tapi hasilnya bagus,” beber Leo seraya menambahkan petani tinggal memilih saja.(SK2)