Beranda kutim adv pemkab Dominasi Kendaraan Pribadi, Angkot di Sangatta Hampir Tinggal Kenangan

Dominasi Kendaraan Pribadi, Angkot di Sangatta Hampir Tinggal Kenangan

0

Loading

SuaraKutim.com, Sangatta – Tak bisa dipungkiri, seiring dengan pertumbuhan penduduk di kota Sangatta juga berimbas dengan bertambahnya jumlah kendaraan pribadi.

Peran angkutan umum dalam kota atau Angkot yang selama bertahun-tahun memegang peranan penting sebagai alat transportasi darat yang melayani jasa angkut manusia hingga barang, kini berangsur-angsur tergerus dan berganti dengan semakin banyak penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya oleh masyarakat.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kutai Timur, Joko Suripto melalui Kepala Seksi Lalu Lintas Dishub Kutim Zulkarnain, menuturkan bahwa keberadaan angkot khususnya di Sangatta, kian hari semakin berkurang jumlah armadanya.

Hal ini disebabkan masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi saat memiliki keperluan di luar rumah ketimbang menggunakan angkot.

“Angkot di sini (Sangatta, red) hampir punah, meskipun saya tidak ingin mengatakan bahwa mereka sudah punah. Karena masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dari pada angkutan umum,” ucap Zulkarnain, belum lama ini.

Lanjutnya, meskipun angkot menghadapi tantangan dari mobil dan motor pribadi yang semakin banyak, Zulkarnain menyatakan bahwa angkot masih tetap melayani masyarakat, terutama para pelajar.

“Meski secara signifikan jumlah armada angkot yang beroperasi semakin berkurang, tetapi mereka masih melayani masyarakat, terutama para pelajar. Karena ada sekolah yang tidak memperbolehkan para muridnya membawa kendaraan pribadi, jadi para pelajar ini sebagian memilih menggunakan angkot, meski ada juga yang diantar – jemput oleh orang tuanya,” katanya.

Lebih jauh dikatakan Zulkarnain, ada beberapa faktor yang menyebabkan berkurangnya jumlah armada angkot yang beroperasi saat ini. Selain imbas dari kondisi pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan termasuk Kutai Timur beberapa waktu lalu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kelangkaannya, juga menjadi faktor utama.

Ditambah lagi kemudahan persyaratan untuk membeli kendaraan pribadi dan mulai hadirnya jasa layanan ojek online.

“Imbas dari Covid-19 lalu, banyak pemilik armada angkot terpaksa menjual unit kendaraan yang mereka miliki karena rendahnya minat masyarakat menggunakan angkot. Belum lagi masalah BBM (bahan bakar minyak, red) yang harganya terus naik dan untuk mendapatkannya juga harus antri berjam-jam di SPBU. Selain itu, sekarang juga dipermudah (persyaratan, red) untuk membeli mobil atau motor pribadi. Termasuk juga sudah mulai ada ojek online, motor dan mobil. Jadi masyarakat semakin malas menggunakan angkot,” pungkasnya.(Red/SK-01/SK-02/Adv)