Beranda kutim adv pemkab Lakukan Pengawasan Ketat, DLH Kutim Minta Perusahaan Patuhi Pengelolaan Limbah B3

Lakukan Pengawasan Ketat, DLH Kutim Minta Perusahaan Patuhi Pengelolaan Limbah B3

0
Kepala DLH Kutim, Armin Nazar

Loading

SuaraKutim.com, Sangatta – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur meminta agar seluruh Perusahaan yang beroperasi di wilayah hukum Kutai Timur, mematuhi pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Saat ini, Kutai Timur merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Timur yang memiliki banyak perusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut menghasilkan limbah B3. Pengelolaan limbah B3 ini menjadi tanggung jawab perusahaan, baik dikelola sendiri maupun oleh pihak ketiga.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim Armin Nazar mengungkapkan bahwa perusahaan yang menghasilkan limbah B3 wajib memiliki izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Izin ini dikeluarkan setelah perusahaan memenuhi persyaratan teknis dan administratif.

“Perusahaan wajib memiliki dokumen pengelolaan limbah B3, yaitu Rencana Pengelolaan Limbah B3 (RKLB3) dan Rencana Operasional Pengelolaan Limbah B3 (ROL B3),” ujar Armin.

RKLB3 dan ROL B3 ini harus disusun oleh perusahaan berdasarkan jenis dan karakteristik limbah B3 yang dihasilkan. Dokumen ini berisi rencana pengelolaan limbah B3 mulai dari pengurangan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan penimbunan.

Pengawasan pengelolaan limbah B3 di Kutim dilakukan oleh DLH Kutim. Pengawasan ini dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa perusahaan mematuhi peraturan yang berlaku.

“Kami akan memberikan sanksi kepada perusahaan yang melanggar peraturan pengelolaan limbah B3,” tegas Armin.

Sanksi yang diberikan kepada perusahaan yang melanggar dapat berupa teguran tertulis, denda, hingga pencabutan izin.

Armin mengatakan bahwa sejauh ini belum ada perusahaan di Kutim yang dijatuhi sanksi karena melanggar peraturan pengelolaan limbah B3. Namun, pihaknya telah menemukan beberapa perusahaan yang tidak memiliki izin pengelolaan limbah B3.

“Belum ada di Kutim, dulu pernah ada itu karena kontraknya yang lalai. Kami sudah menindaklanjuti temuan tersebut,” kata Armin.

Armin mengimbau kepada perusahaan di Kutim untuk mematuhi peraturan pengelolaan limbah B3. Hal ini penting untuk melindungi lingkungan dan masyarakat dari dampak negatif limbah B3.

“Limbah B3 sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan limbah B3 harus dilakukan dengan baik,” pungkas Armin.(Red/SK-01/SK-02/Adv)

Artikulli paraprakSiang Geah Minta Penyertaan Modal Rp25 Miliar ke Perumdam Tirta Tuah Benua Dioptimalkan
Artikulli tjetërPemberdayaan UMKM Jadi Solusi Pengembangan Ekonomi Kawasan Transmigrasi