Beranda foto Menengok Kapal Nelayan Korban Tsunami 2004

Menengok Kapal Nelayan Korban Tsunami 2004

0

Loading

SANGATTA,Suara Kutim.com (22/11)

Syahrial (52) warga Banda Aceh
Syahrial (52) warga Banda Aceh
Gempa bumi yang disertai tsunami pada 26 Desember 2004 lalu menjadi peristiwa memilukan warga Banda Aceh, terlebih-lebih yang keluarganya hilang tersampu air. Kenangan memilukan itu dialami Syahrial (52) warga Pungi Jurong Aceh.
Kepada Suara Kutim.com ia menyebutkan akibat tsunami ia kehilangan istri dan tiga orang anak. Pria yang akrab disapa Buyung ini menyebutkan semenjak Monumen Tsunami dibangun, ia tidak pernah berkunjung. “Membawa bapak ke lokasi ini saja, saya sedih tapi saya senang bisa bercerita dengan bapak,” kata pria yang kesehariannya sebagai operator motor becak.
Salah satu bukti kekuatan gelombang Samudra Hindia ketika melanda Aceh, 11 tahun silam yakni kapal nelayan ukuran 35 x 4 meter yang teronggok diatas rumah milik Abasiah – warga Gampong (Kampung,red) Lampulo.
Kapal pencari ikan yang menurut Syahrial berharga Rp2 M bukan milik warga Lampulo tetapi warga Sabang yang saat peristiwa tragis 11 tahun lalu itu, sedang mencari ikan di laut Sabang. “Kapal itu berada sekitar lima kilomter dari pantai, namun karena hempasan ombak tsunami terbawa sampai kedaratan dan tepat berada di atas kediaman Abasiah,” kata Syahrial kepada Suara Kutim.com ketika bertandang ke lokasi yang berada di kampung nelayan ini, Minggu (22/11) siang.
Lokasi “Kapal Nelayan” korban Tsunami ini telah dijadikan pemerintah sebagai monumen penting untuk mengenang keganasan tsunami. Warga sekitar monumen, merasakan dampaknya dimana setiap pekan ribuan orang wisatawan datang. “Mereka yang datang dari berbagai negara, bahkan beberapa negara dari Eropa,” terang Salmi Hardiati – seorang pemandu wisata seraya menyebutkan warga setempat diajak menjadi tuan rumah yang baik dan memanaatkan kedatangan wisatawan dengan berjualan anaka cendramata termasuk kooi khas Aceh.(SK-04/SK-13)