Beranda kutim Catatan Perjalanan Haji (2)

Catatan Perjalanan Haji (2)

1330
0
Suasana di Mina, karena kamar mandi terbatas sementara jumlah jamaah banyak maka harus sabar antri di bawah terik matahari.

Tanggalkan Status di Tanah Air, Bawa Berjuta-Juta Sabar

IBADAH HAJI merupakan kegiatan yang memerlukan kecermatan dalam melaksanakannnya sehingga tidak terbalik-balik atau salah sehingga ibadah hajinya menjadi sia-sia. Yang terpeting dalam melaksanakan ibadah haji harus sama dengan yang  dilakukan Rasulullah SAW,  karenanya ilmu  berhaji yang benar harus dipersiapkan sebaikmungkin sebelum berangkat, kalau tidak mengerti jangan sungkan untuk bertanya kepada ahlinya karena ada tiga jenis haji yakni Haji Tamattu’, Ifrad dan Qiran yang polanya berbeda-beda.

                Selain ilmu haji yang benar-benar dikuasai, kesiapan mental dan fisik juga harus dipersiapkan. Sebelumnya berangkat, status pada diri segera ditanggalkan dan tanamkan bahwa kita adalah mahluk yang kecil dan tak ada apa-apanya. Kedatangan kita ke tanah suci semata-mata intuk beribadah karena Allah SWT.

                Agar perjalanan ibadah haji sempurna, tentu jamaah haji membawa bekal yang cukup baik ilmu maupun bekal lainnya, namun yang perlu ditabung di tanah air sebanyak-banyaknya yakni sabar. Sebagai bagian dari jutaan jamaah atau dari ratusan jamaah (satu kloter,red) prilaku jamaah macam-macam, ujian itu sudah terasa saat berangkat ke tanah suci.

Tidak ada di Makkah yang bisa nyelonong semua harus antri jika ketahuan akan kembali ke antrian paling akhir, jadi sabar kuncinya.

                Proses perjalanan yang lama dan melelahkan, tentu menguras tenaga yang akhirnya berpengaruh kepada emosi. Disinilah, kesabaran diuji. Dalam hal apapun, jamaah wajib sabar seperti naik lift, masuk kendaraan, buang air atau pembagian makanan. Selama di tanah suci, jamaah diperlakukan sama meski ia di tanah air seorang pejabat, pegawai pemerintah, pedagang, tukang sayur, anggota dewan semua sama perlakukannya.

                Selama berada di Tanah Suci, semua jamaah tak lepas dari kewajiban antri seperti buang air kecil terlebih-lebih selama di Arafah dan Mina yang tempatnya sedikit, sementara di lingkungan Masjidl Haram yang mempunyai ribuan kamar kecil tetap antri.

                Dengan kondisi yang terbatas itu, kita hendaknya harus pandai mengatur waktu termasuk jika dalam kamar kecil. Salah satu hal yang perlu diperhatikan pakaian, kiranya tidak terlalu ribet jika berada dalam kamar kecil yang kadangkala kebersihaannya tidak terkontrol seperti tergenang air, banyak tisu dan sebagainya.

                Agar pakaian kita bersih, hendaknya biasakan memakai gamis dan sandal yang tidak mudah basah. Dengan menggunakan gamis, saat buang air – terutama laki-laki tinggal diangkat ke atas tidak harus dibuka-buka lagi. Seadainya menggunakan celana panjang, umumnya dalam kamar kecil tidak ada tempat menggantung kecuali di areal yang baru dibangun Pemerintah Arab Saudi.(syafranuddin/ bersambung)

Artikulli paraprakPemprov Kaltim Lelang 7 Jabatan Tinggi Pratama
Artikulli tjetërKutim Berjuang Wujudkan KLA, Sejumlah OPD Siap Mendukung