Beranda kutim Peringati Hari Juang Kartika, 400 Pohon Pelindung Ditanam Di Kenyamukan

Peringati Hari Juang Kartika, 400 Pohon Pelindung Ditanam Di Kenyamukan

0
Bupati Ismunandar saat menanam pohon di Kenyamukan Sangatta Utara, dalam rangka Menyemarakan Hari Semangat Juang Kartika Tahun 2016.

Loading

SANGATTA,Suara Kutim.com (14/12)
Menyemarakan Hari Semangat Juang Kartika Tahun 2016, ratusan prajurit TNI di Kutim melakukan aksi kebersihan di sepanjang Jalan Kenyamukan serta penanaman 400 pohon. Aksi yang diikuti Bupati Ismunandar, Wabup Kasmidi Bulang, Dandim 0909 Sangatta, Danlanal Sangatta, Kapolres Kutim serta kalangan swasta berlangsung dalam suasana kebersamaan.
Bupati Ismunandar dan Wabup Kasmidi Bulang, antusias melakukan penanaman, bahkan keduanya sama-sama berharap pohon yang mereka tanam tumbuh subur serta menjadi pohon pelindung yang memberikan keasrian bagi Sangatta.
Menurut Ismu, Jalan Kenyamukan kedepan menjadi pintu gerbang dari Timur atau Selat Makasar seiring beroperasinya Pelabuhan Laut di Kenyamukan. Ismu berharap, sepanjang jalan menuju Kenyamukan ini bisa ditanam pohon-pohon pelindung sehingga menambah wilayah hijau. “Mumpung belum banyak bangunan, sepatutnya di tepi jalan ditanam pohon pelindung sehingga dalam beberapa tahun kedepan berfungsi sebagai pelindung serta kawasan hijau,” ujar Ismu.
Terpisah Dandim 0909 Sangatta Letkol Setyo Wibowo menerangkan perjuangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dipimpin Jenderal Soedirman bulan Desember 1945 membuat tentara sekutu terjepit dan akhirnya mundur dari Ambarawa menuju Semarang.
“Walaupun dihadang dengan seluruh kekuatan persenjataan modern serta kemampuan taktik dan strategi sekutu, para pejuang RI tak pernah gentar sedikit pun. Mereka melancarkan serangan dengan gigih seraya melakukan pengepungan ketat di semua penjuru kota Ambarawa,” kata dandim menceritakan seputar Hari Juang Kartika.
Jenderal Soedirman sebagai pemimpin pasukan menegaskan perlunya mengusir tentara sekutu dari Ambarawa secepat mungkin. Sebab sekutu akan menjadikan Ambarawa sebagai basis kekuatan untuk merebut Jawa Tengah. Dengan semboyan ”Rawe-rawe rantas malang-malang putung, patah tumbuh hilang berganti”, pasukan TKR memiliki tekad bulat membebaskan Ambarawa atau dengan pilihan lain gugur di pangkuan ibu pertiwi.
Serangan pembebasan Ambarawa yang berlangsung selama empat hari empat malam, ujar dandim dilancarkan dengan semangat pantang mundur. Peristiwa yang berlangsungs sejak tanggal 12 Desember 1945 dan berakhir tanggal 15 Desember 1945 diakui dandim pejuang tidak menghiraukan desingan-desingan peluru maut lawan.
“Letusan tembakan sebagai isyarat dimulainya serangan umum pembebasan Ambarawa terdengar tepat pukul 4.30 WIB pada tanggal 12 Desember 1945. Pejuang yang telah bersiap-siap di seluruh penjuru Ambarawa mulai merayap mendekati sasaran yang telah ditentukan, dengan siasat penyerangan mendadak secara serentak di segala sektor. Seketika, dari segala penjuru Ambarawa penuh suara riuh desingan peluru, dentuman meriam, dan ledakan granat. Serangan dadakan tersebut diikuti serangan balasan musuh yang kalang kabut,” cerita Dandim Setyo Wibowo.(SK12)