Beranda ekonomi Perusak Terbesar Alam Adalah Manusia, Karenanya Manusia Bertanggungjawab

Perusak Terbesar Alam Adalah Manusia, Karenanya Manusia Bertanggungjawab

2514
0
Kondisi Sungai Sangatta yang kerap menjadi tempat pembuangan sampah oleh manusia, sehingga berbagai masalah timbul diantaranya banjir dan menurunnya kualitas mutu air.

SANGATTA,Suara Kutim.com (17/6)

Asisten Administrasi Umum Setkab Kutim Edward Azran
Asisten Administrasi Umum Setkab Kutim Edward Azran
Tuhan menciptakan bumi pada awalnya penuh dengan kesempurnaan. Namun setelah hadirnya mahluk yang bernama manusia, maka semua kehidupan bumi berubah menjadi hancur dan tidak dapat diselamatkan lagi.
Kerusakan hutan, musnahnya hewan, tercemarnya air, udara dan buruknya lingkungan itu karena ulah manusia. Karena alam sudah tidakn seimbang, terjadi bencana alam dan yang merasakan langsung juga manusia.
Ungkapan itu dilontarkan Assisten Administrasi Umum Setkab Kutim Edward Azran dalam Sangatta Review (SR) pada Senin (15/6) di Hotel Royal Victoria. Dalam SR yang digarap DPD KNPI secara khusus menampilkan tema “Pencemaran lingkungan siapa yang bertanggung jawab” Edward menegaskan pengelolaan lingkungan harusnya seimbang sehingga tidak menimbulkan bencana.
Lebih jauh, Edward menyebutkan beberapa faktor terjadi rusaknya alam disebabkan manusia, diantaranya manusia tidak lagi memikirkan kehidupan alam itu sendiri baik dampak positif maupun dampak negatif yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. “Dalam hemat saya, kerusakan alam, bumi karena disebabkan oleh kerakusan ekonomi yang dilakukan manusia. Selain itu, karena adanya sifat acuh manusia dengan semua kehidupan alam yang rusak akibat ulahnya sendiri,”ujar Edward.
Ia mengakui kerusakan alam di Kutim termasuk dalam ambang kerusakan serius, namun untuk perbaikan tidak ada kata terlambat. “Ada beberapa hal yang harus diperhatikan manusia wajib mengerti dan memahami siapa yang menciptakan alam dan untuk apa diciptakan. Karena jika manusia mengerti tujuan penciptaan alam, maka manusia itu tidak akan melakukan pengrusakan seperti saat ini,” ungkapnya.
Selain itu Edward menyarankan perlu perbaikan hubungan antara manusia dengan manusia sehingga jika salah satu manusia yang melakukan pencemaran ada yang lainnya melakukan teguran dan perbaikan. “Tidak kalah pentingnya ialah hubungan dengan alam. Jika hubungan manusia dengan alam tertata dengan baik, maka manusia akan menghargai alam dimana dirinya berpijak,” tandas Edward.
Ia menyebutkan beberapa sikap sejumlah negara dalam mengeloa alam, ia menggambarkan situasi sejumlah negara. “Prilaku internasional layak dicontoh, kalau ada yang menghargai alam kita layak mencontoh seperti penanaman pohon, penguatan kerja sama dalam pembenahan dan mungkin juga dengan banyak-banyak diskusi mengenai alam. Dengan demikian kita bisa menjadi embrio perbaikan bagi Kutim,” imbuh Edward.(SK-04/SK-08)

Artikulli paraprakDiddy, Potensi Investasi di Kutim Terbuka Lebar
Artikulli tjetërPelajar Kutim Raih Beasiswa Kaltim Untuk Kuliah ke Rusia