Beranda hukum Mengapa Kutai Utara Harus Terbentuk : Sudah 70 Tahun Indonesia Merdeka Rakyat...

Mengapa Kutai Utara Harus Terbentuk : Sudah 70 Tahun Indonesia Merdeka Rakyat Pedalaman Belum Menikmati Pembangunan Secara Utuh

0
Karena jalan buruk, truk-truk barang harus bercibaku dengan kondisi alam, tidak sedikit yang terpaksa bermalam di hutan karena kerusakan atau amblas. Akibatnya, barang yang dijual di pedalaman Kutim jauh lebih mahal, sementara daya beli masyarakat rendah.

Loading

HAKIKAT pendirian Daerah Otonomi Baru (DOB)) tiada lain bagaimana pemenuhan dasar masyarakat serta kehadiran negara (termasuk daerah,red) dalam suka dan duka masyarakat. Kehadiran yang diharapkan tiada lain bagaimana kesejahteraan rakyat membaik, pendidikan lebih berkualitas serta derajat kesehatan yang lebih baik.
Kondisi itu akan mudah dicapai jika jalan mendukung, namun kenyataanya pedalaman Kutim hingga 70 tahun Indonesia merdeka, boleh dikata belum merasakan nikmatnya kue pembangunan yang salah satunya jalan.
Buruknya kondisi jalan selama ini, meski Kutim sudah bersusia 16 tahun tiada lain karena anggaran dimiliki terbatas disisi lain pembenahan Sangatta sebagai ibukota kabupaten harus dilakukan, termasuk penyediaan sarana dan prasarana pemerintahan.
Kondisi jalan – jalan yang ada di wilayah Kutai Utara (Kutara) umumnya jalan kabupaten, sementara ruas jalan Sangatta – Muara Wahau dan Kongbeng hingga Bulungan di Kalimantan Utara (Kaltara) tiada lain karena jalan negara, meski demikian mulusnya trasn Kalimantan ini baru terwujud dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara jalan – jalan kabupaten yang ada seperti ruas Sangatta – Rantau Pulung – Batu Ampar – Muara Bengkal dan Muara Ancalong, atau Long Mesangat dan Busang , memerlukan perhatian serius.
Masyarakat pedalaman Kutim (Kutara,red) sangat berharap kebutuhan dasar mereka bisa terpenuhi sehingga bisa merasakan arti kemerdekaan dimana selama ini sumber daya alamnya diangkut. “Puluhan tahun masyarakat hanya menyaksikan sumber daya alamnya seperti kayu dibawa ke hilir entah menjadi apa, namun kenyataannya warga tidak merasakan apa-apa bahkan kini hanya merasakan akibatnya yakni banjir yang semakin menambah kesengsaraan rakyat,” ujar Ketua Komite Pembentukan Kutara (KPK) Majedy Effendy belum lama ini.(SK-04/SK-11)